Balai Arkeologi Provinsi D.I Yogyakarta

Tidak Sekedar Membaca Masa Lalu

Religi awal manusia penghuni gua masa prasejarah

Manusia penghuni gua pada masa prasejarah merupakan jejak tinggalan peradaban awal Homo sapiens (manusia prasejarah). Manusia sebelum Homo sapiens adalah Homo erectus atau biasa disebut manusia purba. Pola hidup antara manusia purba dengan manusia prasejarah sangatlah berbeda. Hal yang tampak jelas perbedaannya adalah manusia purba hidupnya mengembara, dengan berburu dan mengumpulkan makanan tingkat sederhana, biasanya mereka tinggal di tempat terbuka sekitar tepian sungai. Selanjutnya pola hidup manusia prasejarah mulai menempati gua atau ceruk dengan berburu dan mengumpulkan makanan tingkat lanjut. Mereka sudah mulai hidup semi menetap, tidak mengembara lagi. Kehidupan semi menetap di dalam gua ini yang mewujudkan tinggalan budaya yang lebih maju dibandingkan kehidupan yang masih mengembara. Mereka mulai mengenal api, memasak/meramu, dan mulai membutuhkan kebutuhan spiritual dan keyakinan adanya kekuatan supranatural baik pada arwah nenek moyang maupun alam. Kebutuhan inilah merupakan embrio dari suatu religi atau keyakinan tentang adanya kehidupan setelah mati.

Keyakinan tentang adanya kehidupan setelah mati terlacak pada jejak budaya kubur. Jejak kubur pada hunian gua prasejarah terdapat dua sistem yaitu kubur primer dan kubur sekunder. Kubur primer adalah seluruh organ tubuh/rangka manusia dikuburkan baik hanya diletakkan maupun dibuat lobang dan ditimbun tanah. Adapun kubur sekunder hanya sebagian organ manusia biasanya bagian tengkorak dan tulang panjang dikubur atau diletakkan di permukaan tanah. Pada hunian gua ini, dalam menguburkan belum dikenal wadah, jadi hanya diletakkan atau dikuburkan saja. Posisi kubur pada kehidupan di gua hunian, meliputi tiga posisi, telentang, semi terlipat (meringkuk) dan terlipat. Hasil penelitian di Gua Kidang ditemukan tiga kubur dengan posisi yang berbeda pada keletakkan yang berbeda. Tampak jelas kubur di Gua Kidang hanya diletakkan saja dengan posisi, telentang, meringkuk, dan duduk.

Orientasi ketiga kubur adalah timur – barat, yang kemungkinan dimaksudkan ibarat matahari terbit dan matahari tenggelam. Posisi meringkuk ibarat posisi janin di dalam Rahim ibu, sehingga posisi dan orientasi tersebut dimaksudkan sebagai lahir Kembali setelah mati.

Updated: September 1, 2021 — 3:31 am

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Balai Arkeologi D.I Yogyakarta © 2016 ArkeologiJawa