Balai Arkeologi Provinsi D.I Yogyakarta

Tidak Sekedar Membaca Masa Lalu

Dari Sungai ke Gua: Hunian Masa Prasejarah

Kehidupan manusia prasejarah masih bergantung dengan ketersediaan sumber makanan dan bahan baku untuk peralatan yang tersedia di lingkungan alam sekitarnya. Mereka akan mencari daerah yang subur, nyaman, jauh dari mara bahaya baik dari bencana alam maupun binatang buas. Kehidupan manusia purba (Homo erectus) pada Kala Plestosen hidup mengembara (nomaden) dengan mengembangkan teknologi Paleolitik untuk berburu dan mengolah makanan. Tinggalan budaya paleolitik sebagian besar ditemukan di sungai, dalam penelitian arkeologi Balai Arkeologi DIY adalah di Kali Oyo, Gunungkidul dan Kali Baksoko, Pacitan. Produk dengan teknologi paleolitik meliputi kapak penetak, kapak perimbas, kapak genggam, dan pahat genggam, namun ada juga alat serpih dan bilah. Manusia waktu itu berburu binatang-binatang vertebrata – invertebrata dan mengumpulkan makanan flora.

Kehidupan manusia prasejarah masih bergantung dengan ketersediaan sumber makanan dan bahan baku untuk peralatan yang tersedia di lingkungan alam sekitarnya. Mereka akan mencari daerah yang subur, nyaman, jauh dari mara bahaya baik dari bencana alam maupun binatang buas. Kehidupan manusia purba (Homo erectus) pada Kala Plestosen hidup mengembara (nomaden) dengan mengembangkan teknologi Paleolitik untuk berburu dan mengolah makanan. Tinggalan budaya paleolitik sebagian besar ditemukan di sungai, dalam penelitian arkeologi Balai Arkeologi DIY adalah di Kali Oyo, Gunungkidul dan Kali Baksoko, Pacitan. Produk dengan teknologi paleolitik meliputi kapak penetak, kapak perimbas, kapak genggam, dan pahat genggam, namun ada juga alat serpih dan bilah. Manusia waktu itu berburu binatang-binatang vertebrata – invertebrata dan mengumpulkan makanan flora.

Selanjutnya pada kala Plestosen Akhir manusia waktu itu sudah semakin cerdas yaitu Homo sapiens yang mulai menghuni gua sebagai tempat tinggalnya. Mereka menempati gua pilihan, sebab tidak semua gua atau ceruk dihuni. Seleksi lingkungan alam pun tetap dianut dalam kenyamanan hidupnya terutama dekat dengan mata air, sumber makanan (flora – fauna) dan bahan baku untuk pembuatan peralatan sehari-hari. Meskipun masih hidup berpindah-pindah, namun manusia waktu itu sudah mulai mengembangkan teknologi pembuatan perkakas sehariannya tidak hanya dari batu, tapi juga dari cangkang kerang dan tulang. Alat batu dikerjakan dengan teknologi mesolitik yaitu pengerjaan primer dan sekunder yang menghasilkan alat serpih – bilah dan serut. Selain itu, manusia penghuni gua juga sudah mengenal kubur (hidup setelah mati).

Sumber : Indah A.N

Updated: July 21, 2021 — 6:24 am

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Balai Arkeologi D.I Yogyakarta © 2016 ArkeologiJawa