Balai Arkeologi Provinsi D.I Yogyakarta

Tidak Sekedar Membaca Masa Lalu

Paleolitik Pertama dari Situs Bumiayu, Dua Horison Budaya Berbeda

Paleolitik dari dasar beberapa sungai di Bumiayu, meski hanya berjumlah 5 buah, merupakan paleolitik pertama yang dilaporkan dari endapan purba di daerah ini. Tiga buah artefak berasal dari Kali Gintung, berupa sebuah kapak perimbas (chopper) dari gamping kersikan (silicified limestone), sebuah penetak (chopping tool) dari batu kalsedon coklat tua, dan sebuah alat serpih besar (flake) dari fosil kayu. Di lain pihak, sebuah kapak perimbas gamping kersikan ditemukan di dasar Kali Bodas, dan sebuah kapak penetak (chopping tool) ditemukan dari dasar Kali Cisaat, dibuat dari baru andesit kersikan berwarna hitam, jenis batuan bahan pembuatan alat yang jarang digunakan selama ini.

Tampilnya alat-alat batu ini telah jauh didahului oleh himpunan fosil vertebrata, yang sudah menjadi telaah penting sejak lebih dari 90 tahun yang lalu. Oleh karenanya, penemuan alat-alat batu paleolitik tersebut menjadi unsur temuan yang sangat penting dalam penelitian ini, yang menjamin keberadaan manusia di daerah Bumiayu, setidaknya sejak Kala Plestosen. Sebagaimana yang selama ini menjadikan ciri khas penemuan alat-alat paleolitik di Indonesia, sebagian besar darinya –seperti halnya dengan paleolitik dari Kali Gintung, Kali Bodas, dan Kali Cisaat ini—ditemukan di dasar sungai di luar konteks stratigrafi, dan oleh karenanya, kronologinya pun menjadi tidak diketahui. Teknologi yang ditunjukkan dari himpunan artefak ini sangat signifikan terbingkai ke dalam tradisi kapak penetak-perimbas (chopping-chopper tool complex), yang dicirikan oleh teknologi pemangkasan satu muka (monofacial) dalam pembuatan kapak perimbas, dan pemangkasan dua muka (bifacial) dalam rangka pembuatan kapak penetak. Bersama kedua teknik pemangkasan pembuatan alat batu tersebut, juga ditunjukkan adanya teknologi pembuatan alat serpih, melalui pemangkasan sederhana di bagian dorsal sebuah fosil kayu, dengan menyisakan sebagian besar korteks.

Alat serpih ini berukuran besar, sejajar dengan alat serpih tipe clactonian.
Sebuah kapak penetak dari batu rijang yang ditemukan di permukaan dasar Kali Gintung menunjukkan aspek teknologis yang sangat maju melalui pemangkasan intensif yang cukup kompleks, dan pemakaian yang cukup intensif berdasarkan retus (bekas pakai) pada bagian tajamannya. Kondisi ini terlihat juga pada artefak lainnya.

Apabila dihadapkan pada kapak penetak dari Kali Cisaat, maka akan terlihat bahwa kapak penetak dari Kali Cisaat ini menunjukkan segi artefak yang sangat tua oleh sederhananya pemangkasan dan lebih lanjutnya pembundaran. Bentuknya oval, bagian tajamannya dibuat melalui 2-3 pangkasan pada masing-masing mukanya, di sepanjang salah satu sisi panjangnya. Pangkasan bifasial ini telah mampu membentuk tajaman yang berbentuk silang-siur. Pada pinggiran bulbus-bulbus negatif pada pangkasan tersebut terlihat sudah sangat membundar, sehingga menunjukkan proses transportasi dan pembundaran yang amat lanjut. Situasi seperti ini akan terlihat cukup kontradiktif dibandingkan dengan himpunan artefak dari Kali Gintung dan Bodas. Oleh karenanya, himpunan artefak ini ditafsirkan berasal dari 2 horison budaya yang berbeda. Ada kemungkinan bahwa kapak-kapak penetak-perimbas yang tersebut pertama berasal dari lingkungan pengendapan di Kali Gintung sendiri, dan berbeda usia dengan kapak penetak dari Kali Cisaat. Artefak Kali Cisaat diduga jauh lebih tua dibandingkan dengan artefak lainnya.


Sumber : Harry Widianto

Updated: June 4, 2021 — 1:50 am

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Balai Arkeologi D.I Yogyakarta © 2016 ArkeologiJawa