Balai Arkeologi D.I Yogyakarta

Tidak Sekedar Membaca Masa Lalu

C14 Carbon Dating Analysis

C14 Carbon dating analysis atau analisis C 14 adalah salah satu cara dalam menentukan pertanggalan atau umur secara mutlak suatu tinggalan arkeologis dengan cara menghitung sisa karbon (C 14) pada artefak. Umur mutlak atau absolut yang dihasilkan dapat memberi gambaran pasti pada periode apa tinggalan arkeologis itu. Tetapi pertanggalan ini juga ada batasnya yang dinamakan half-life atau halftime. Pengertian half-life atau halftime adalah waktu yang dibutuhkan pada proses penurunan radioaktif yang terkandung dalam tinggalan arkeologis. Perhitungan waktu ini setiap sekali prosesnya (1 half-life/halftime) yaitu membutuhkan waktu 5700 – 5730 tahun. Sehingga sejak kematian zat organik, tanaman atau hewan, akan mulai mengurangi kadar radioaktifnya membutuhkan waktu 5700 – 5730 tahun. Artefak yang dapat dianalisis dengan metode ini, jika masih ada sisa karbon yang biasanya terdapat pada fosil tanaman atau hewan.

View this post on Instagram

#SahabatArkeologi, kali ini Mimin akan membagikan informasi tentang analisis C14. . C14 Carbon dating analysis atau analisis C 14 adalah salah satu cara dalam menentukan pertanggalan atau umur secara mutlak suatu tinggalan arkeologis dengan cara menghitung sisa karbon (C 14) pada artefak. Umur mutlak atau absolut yang dihasilkan dapat memberi gambaran pasti pada periode apa tinggalan arkeologis itu. Tetapi pertanggalan ini juga ada batasnya yang dinamakan half-life atau halftime. Pengertian half-life atau halftime adalah waktu yang dibutuhkan pada proses penurunan radioaktif yang terkandung dalam tinggalan arkeologis. Perhitungan waktu ini setiap sekali prosesnya (1 half-life/halftime) yaitu membutuhkan waktu 5700 – 5730 tahun. Sehingga sejak kematian zat organik, tanaman atau hewan, akan mulai mengurangi kadar radioaktifnya membutuhkan waktu 5700 – 5730 tahun. Artefak yang dapat dianalisis dengan metode ini, jika masih ada sisa karbon yang biasanya terdapat pada fosil tanaman atau hewan. . Proses pengambilan sampel di lapangan dilakukan pada saat ekskavasi. Pada saat mengambil sampel di kotak ekskavasi harus diperhatikan benar bahwa tidak ada material yang masuk dan mencampuri. Sampel yang terambil dibungkus dengan aluminium foil. Jumlah sampel yang dibutuhkan berbeda-beda, tergantung materialnya. Misalnya saja, arang membutuhkan 25 gram, sedangkan bahan organik tercampur tanah 50 – 300 gram. Jenis fosil seperti cangkang kerang membutuhkan sampel 100 gram dan sampel tertinggi untuk tulang yaitu 1000 gram. . Semoga informasi ini menambah pengetahuan bagi #SahabatArkeologi semua ya… #BalarJogja #ArkeologiJawa #RabuTambahTahu

A post shared by Balai Arkeologi DIY (@balarjogja) on

Updated: March 5, 2020 — 1:31 am

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Balai Arkeologi D.I Yogyakarta © 2016 ArkeologiJawa