Balai Arkeologi D.I Yogyakarta

Tidak Sekedar Membaca Masa Lalu

Rumah Peradaban Situs Plered 2019

Rumah Peradaban merupakan program terobosan yang ditempuh oleh Pusat Penelitian Arkeologi Nasional berserta Balai Arkeologi di Indonesia sebagai upaya untuk memasyarakatkan hasil penelitian arkeologi secara lebih cepat dan tepat. Bentuknya tidak fisik tetapi lebih diarahkan pada berbagai media informasi agar masyarakat dapat memahami peradaban leluhurnya dengan baik sehingga pada gilirannya dapat mendorong peningkatan pembangunan karakter sebagai bangsa yang berbudaya adi luhung.

Plered ini mempunyai peranan penting dalam sejarah Mataram Islam. Di wilayah Plered dijumpai beberapa situs yang berkaitan dengan sejarah Mataram Islam yaitu Situs Kerto, Situs Masjid Kauman Plered, Situs Gunung Kelir, Pungkuran, Situs Sumur Gumuling, dan Situs Kedaton. Di Kawasan inilah dijumpai bekas pusat kerajaan Mataram Islam pada masa Sultan Agung Hanyakrakusuma di Keraton Kerto (Karta/Charta) dan Sunan Amangkurat I di Keraton Plered. Namun kejayaan dan tinggalan dua raja besar Mataram Islam tersebut kini nyaris tak tersisa. Bekas-bekas Keraton Plered sebenarnya masih ada, meski sudah rusak dan dalam wujud berupa sisa-sisa pondasi bangunan yang tersingkap di beberapa bekas lubang gali.

Kegiatan yang dilakukan dalam Rumah Peradaban Situs Plered 2019 antara lain :

  1. Jelajah Situs dan Workshop Videografi

Kegiatan Jelajah Situs dan Workshop Videografi dilaksanakan tanggal 17-21 November 2019. Kegiatan ini dibuka pada tanggal 17 November 2019 di kantor Balai Arkeologi DIY oleh Bapak Sugeng Riyanto selaku Kepala Balar DIY. Jelajah Situs dan Workshop Videografi ini diikuti oleh siswa-siswa SMA di Kabupaten Bantul, di antaranya: SMA 1 Pleret, SMA Muhammaddiyah Pleret, SMA 1 Imogiri, SMA Muhammaddiyah Imogiri, SMA 1 Pundong, SMA 1 Jetis, SMA 1 Piyungan, SMA 1 Sewon, SMA 1 Dlingo, dan SMA 2 Banguntapan. Kegiatan ini merupakan hasil kerjasama antara Balai Arkeologi DIY, Jurusan Televisi FSMR ISI Yogyakarta, Departemen Arkeologi UGM, dan Dinas Kebudayaan DIY.

Jelajah Situs dan Workshop Videografi berlangsung selama lima hari dengan agenda materi kelas berupa materi arkeologi dan videografi yang berlokasi di kantor Balar DIY pada hari pertama. Hari kedua, yaitu tanggal 18 November 2019, berlangsung jelajah situs di Kawasan Cagar Budaya Kerto-Plered dan workshop videografi di Museum Purbakala Plered. Hari ketiga, seluruh peserta melakukan pengambiran gambar sesuai dengan kelompok masing-masing di area Kawasan Cagar Budaya Plered. Hari keempat, seluruh peserta melakukan proses editing di gedung Prodi Film dan Televisi ISI Yogyakarta di bawah bimbingan dosen dan mahasiswa Prodi Film dan Televisi ISI Yogyakarta. Hari kelima, dilakukan screening karya video seluruh peserta yang terbagi dalam lima kelompok. Pemutaran video ini disaksikan oleh perwakilan guru dari masing-masing sekolah dan diapresiasi oleh Kepala Balai Arkeologi DIY, Latif Rahman Hakim, dan Pamungkas Susetio dari ISI Yogyakarta. Dari kelima video yang diproduksi, dipilih satu video terbaik dari kelompok lima, dengan judul “Si Bata Jejak Peninggalan Mataram Islam.”

2. Pameran Rumah Peradaban Situs Plered 2019

Kegiatan Pameran dilaksanakan pada tanggal 17 – 23 November 2019. Bertempat di Museum Situs Plered, Balar DIY menggelar pameran dengan tema Kerajaan Mataram Islam, Selama pameran berlangsung Balar DIY menyediakan informasi arkeologi berupa Poster pengetahuan arkeologi, game interaktif arkeologi, film pengetahuan arkeologi dan ular tangga arkeologi.

Pengunjung pameran terlihat sangat antusias dengan berbagai informasi yang disajikan oleh Balar DIY, pengunjung yang didominasi oleh siswa sekolah dasar memberikan nuansa yang hangat, ceria, bersemangat dan penuh keingin tahuan. Selain mendapat informasi mengenai Kerajaan Mataram Islam dari Balar DIY, pengunjung juga dapat melihat ruang pamer Museum Plered yang berisi peninggalan Kerajaan Mataram Islam.

3. Bedah Buku Pengayaan Pendidikan dan Poster Peraga Pendidikan

Kegiatan Bedah Buku Pengayaan Pendidikan dan Poster Peraga Pendidikan dilaksanakan pada hari Sabtu, 23 November 2019. Kenapa acara ini dilaksanakan? Bedah buku ini dilaksanakan untuk menjaring opini, saran, maupun kritik dari para pengguna buku dan poster, yaitu para guru dan siswa. Memang, dari 100 lebih undangan yang disebarkan untuk acara ini, sebagian besar berasal dari elemen guru dan siswa SMA di Kabupaten Bantul.

Buku pengayaan pendidikan “Plered : Dinamika Ibukota Mataram Islam Pasca-Kotagede (A Photobook)” mendapatkan respon yang positif dari para peserta, terutama mengenai desain visualnya. Aryanto Hendro S., salah satu “pembedah” buku ini mengemukakan tingkat kesulitan tinggi dalam membuat membuat buku yang dapat diterima seluruh elemen masyarakat, dan dia pun kemudian menyatakan bahwa buku ini sudah bagus visualisasinya namun masih banyak yang bisa ditingkatkan. Pembedah berikutnya, Suryanto, S.Pd. M.Pd, menekankan bahwa sebagai buku pengayaan pendidikan pesan-pesan singkat dalm teksnya tidak perlu lengkap, tapi bisa menjadi pemantik sehingga proses pembelajaran di kelas bisa lebih menarik.

Tak kalah menarik, Poster Peraga Pendidikan ternyata juga mendapatkan respon yang positif. Poster dengan judul “Potensi Sumber Daya Arkeologi DI Kawasan Cagar Budaya Kerto-Plered” ini mengusung tema peta navigasi yang menunjukkan lokasi-lokasi tinggalan budaya di Kerto-Plered. Poster ini dari beberapa peserta dianggap sebagai metode yang paling cepat dan efektif dalam menyebarkan informasi. Menurut mereka, metode yang sudah cukup bagus ini akan menjadi lebih sempurna jika disertai informasi lebih detail pada lembar terpisah untuk Bapak/Ibu Guru, agar dapat menjadi kader yang dapat menjelaskan isi poster ini kepada murid-muridnya.

Tautan unduhan Buku Pengayaan Pendidikan ini, dan buku koleksi Balar lainnya dapat dilihat di tautan berikut ini:https://berkalaarkeologi.kemdikbud.go.id/index.php/berkalaarkeologi/booksrepo

Updated: November 27, 2019 — 3:07 am

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Balai Arkeologi D.I Yogyakarta © 2016 ArkeologiJawa