Balai Arkeologi D.I Yogyakarta

Tidak Sekedar Membaca Masa Lalu

SULTAN AGUNG (1613 – 1646 TU)


Sultan Agung naik tahta mengganikan pendahulunya Panembahan Sedo ing Krapyak (1601 – 1613 TU). Nama kecilnya R,M, Jatmiko, kemudian diganti menjadi Pangeran Rangsang. Kegiatan politiknya dimulai dengan serangan ke Pasuruan pada tahun 1614 TU. Pertempuran berikutnya terjadi pada tahun 1625 TU yaitu dengan pengepungan di Surabaya. Kegiatan politik yang lain terjadi pada tahun 1628 TU dan 1629 TU yaitu pengepungan Batavia oleh pasukan Mataram. Akan tetapi usaha tersebut gagal, disebabkan kurangnya logistik, adanya penyakit, dan penggunaan senjata api oleh pasukan Belanda. Beberapa pertempuran lain terjadi dalam rangka penaklukan terhadap Pati, Giri, dan Blambangan yang berakhir pada tahun 1640 TU.

Kegagalan Sultan Agung menundukkan orang-orang Belanda dicoba diimbangi dengan tindakan di bidang spiritual. Pada tahun 1624 TU ia mulai menggunakan gelar Susuhunan, dan pada tahun 1641 TU ia mulai bergelar Sultan yang diterimanya dari Mekah dengan gelar Sultan Abdullah Muhammad Maulana Matarani. Pada sekitar tahun-tahun tersebut Sultan Agung memberlakukan sistem kalender baru yang merupakan perkawinan antara perhitungan tahun Hijriyah dan tahun Çaka yang waktu itu menunjukkan tahun 1555 Çaka. Tindakan ini merupakan langkah besar karena berarti Sultan Agung menjaga keseimbangan antara tradisi Hindu dan Islam. Kalender tersebut oleh masyarakat Jawa masih digunakan hingga sekarang ini.

Masa pemerintahan Sultan Agung selain diwarnai oleh masalah-masalah politik juga ditandai dengan pembangunan fisik keraton. Beberapa pembangunan yang telah dilaksanakan meliputi:

  1. Penyiapan lahan di Kerta untuk calon keraton dilaksanakan pada tahun 1539 Ç atau 1617 TU.
  2. Raja berkraton di Kerta meskipun ibu suri asih di Kota Gede, tahun 1540 Ç atau 1618 TU.
  3. Mendirikan Prabayaksa di Kerta dilaksanakan pada tahun 1542 Ç atau 1620 TU.
  4. Kraton Kerta diberi Siti-Inggil dilaksanakan pada tahun 1547 Ç atau 1625 TU.
  5. Mulai membangun pemakaman di Girilaya dilaksanakan pada tahun 1551 Ç atau 1629 TU.
  6. Mulai membuka hutan di Bukit Merak untuk pemakaman kerajaan dilaksanakan pada tahun 1554 Ç atau 1632 TU.
  7. Mulai membuat bendungan di Sungai Opak dilaksanakan pada tahun 1559 Ç atau 1637 TU.
  8. Mulai membuat segaran di Plered dilaksanakan pada tahun 1565 Ç atau 1643 TU.
  9. Pemakaman di Bukit Merak selesai dibuat dan diberi nama Imagiri dilaksanakan pada tahun 1567 Ç atau 1645 TU.

Tidak sampai satu tahun setelah peristiwa terakhir tersebut Sultan Agung wafat di Pendapa Kraton dan dimakamkan di Imagiri.

Updated: September 24, 2019 — 9:11 am

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Balai Arkeologi D.I Yogyakarta © 2016 ArkeologiJawa