Balai Arkeologi D.I Yogyakarta

Tidak Sekedar Membaca Masa Lalu

´╗┐STRATEGI SUBSISTENSI PADA MASA PRASEJARAH DI GUA-GUA GUNUNG SEWU BAGIAN BARAT: SEBUAH PENDEKATAN ZOOARCHAEOLOGY

Kawasan karst Gunung Sewu yang memanjang dari barat ke timur meliputi Kabupaten Gunung Kidul, Wonogiri dan Pacitan menyimpan banyak rahasia tentang kehidupan Masa Prasejarah. Seperti yang kita ketahui kawasan Gunung Sewu terdiri dari bukit-bukit conical dan lembah-lembah sempit, juga memiliki kandungan gua dan ceruk yang sangat banyak jumlahnya.

Pada bagian timur Gunung Sewu, kita mengenal Song Keplek di Pacitan sebagai salah satu situs yang signifikan dan dapat menguak banyak hal mengenai kehidupan manusia pada akhir Kala Pleistosen hingga awal Holosen. Karakter Song Keplek diantaranya adalah temuan sisa fauna, alat batu dan alat tulang yang sangat banyak baik dari segi jumlah maupun variasi (Simanjuntak, 2002). Adanya penguburan terlipat, aktivitas perapian yang intensif, catchment area yang luas hingga mencapai pesisir, perburuan Macaca sp., pemanfaatan biji-bijian seperti kemiri dan kenari (Simanjuntak, 2002) semakin memberikan gambaran mengenai dinamika penghunian Gua pada masa prasejarah di Gunung Sewu.

Menuju ke tengah, tepatnya di Rongkop, Gunung Kidul terdapat satu situs yang juga signifikan yaitu Gua Braholo. Gua Braholo yang merupakan hunian Kala Holosen memiliki temuan alat batu dan alat tulang yang bervaariasi dari segi bahan, namun tidak dari segi tipologinya (Simanjuntak, 2002). Satu individu manusia ditemukan dalam posisi kaki terlipat dengan ujungnya pada bagian pelvis serta tangan kiri terlipat dan tangan kanan menyentuh bagian lutut (Simanjuntak, 2002). Sisa hewan yang ditemukan adalah dari ordo Primata, Artyodactyla, Carnivora, Rodentia, Proboscidea, Periodactyla, Aves, Pisces, Reptilia dan Molluska. Sama dengan di Song Keplek, kehadiran sisa-sisa Macaca di Gua Braholo sangat banyak dijumpai, namun tidak demikian dengan sisa-sisa Moluska (Simanjuntak, 2002).

Lalu bagaimana dengan gambaran kehidupan prasejarah di Gunung Sewu bagian barat?

Penelitian ini akan menggunakan studi zooarchaeology untuk mengetahui bagaimana manusia penghuni gua dan ceruk di Kawasan Gunung Sewu bagian barat memenuhi kebutuhan gizi hewani dihadapkan dengan situasi geografis dan ekologis di sekitar mereka. Untuk lebih jauh, penelitian ini akan mencoba menjawab fungsi-fungsi gua dan ceruk tersebut, manakah yang merupakan hunian sementara, shelter untuk berburu, dan hunian jangka lama dilihat dari karakteristik sisa-sisa faunanya. Diharapkan penelitian ini mampu menyumbangkan data untuk melengkapi kerangka panjang hunian prasejarah di Gunung Sewu.

Lokasi yang dipilih untuk diekskavasi adalah Song Pedang yang terletak di Dusun Karang, Desa Girikarto, Kecamatan Panggang, Kabupaten Gunungkidul. Sejauh ini dari hasil ekskavasi yang dilakukan sejak tanggal 18 s.d. 28 Juli 2019 terdapat beberapa hal yang dapat diketahui, diantaranya adalah variasi fauna yang terdeposit dan variasi artefak yang terdapat di Song Pedang.  Jenis-jenis hewan yang umum ditemui adalah Macaca sp (kera ekor panjang), Suidae (Babi hutan), Cervidae (Rusa), Hystricidae (landak), Muridae (tikus), Ariidae (ariid catfish). Sedangkan dari kelompok kerang dijumpai adanya sisa Cyprea, Neritidae, Tidak semua hewan-hewan yang terdeposit merupakan hasil konsumsi manusia. Untuk membedakan antara sisa hewan yang dikonsumsi dan yang mati alami dapat dilihat dari beberapa hal, terutama keberadaan bekas pangkasan, bekas pukulan, bekas pengolahan dan bekas pembakaran.

Sejumlah tulang hewan mamalia berukuran sedang di Song Pedang juga memiliki bekas pemangkasan. Kebanyakan merupakan tulang panjang yang dipotong/ dipangkas pada bagian ujung atas atau ujung bawah tulang. Sebagian besar tulang mamalia berukuran sedang ini mengalami proses pengolahan maupun pembakaran. Hal ini dapat dilihat dari tekstur dan warna tulang. Daging yang mengalami proses pengolahan, baik direbus maupun dibakar biasanya akan meninggalkan tulang yang lebih keras dan warnanya agak kecoklatan, berbeda dengan hewan yang mati alami, bobot tulang dan warnanya akan berbeda. Lain halnya dengan tulang yang sengaja dibakar, warna tulang akan berubah menjadi kecoklatan hingga hitam, proses pembakaran ini biasanya berhubungan dengan pembuatan alat tulang.

Updated: August 26, 2019 — 4:06 am

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Balai Arkeologi D.I Yogyakarta © 2016 ArkeologiJawa