Balai Arkeologi D.I Yogyakarta

Tidak Sekedar Membaca Masa Lalu

36 NASKAH KUNO BERHURUF ARAB DI KABUPATEN SEMARANG

Tim Penelitian dari Balai Arkeologi Daerah Istimewa Yogyakarta yang diketuai oleh Masyhudi, telah melaksanakan kegiatan penelitian eksplorasi pendokumentasian naskah kuno berhuruf Arab di Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Selasa 23 Juli sampai dengan 9 Agustus 2019. Kegiatan penelitian yang bertujuan untuk mendokumentasikan, identifikasi dan  untuk mengetahui muatan atau isi yang terkandung di dalam sumber tertulis, naskah naskah kuno berhuruf Arab di  wilayah Kabupaten Semarang ini  dilakukan dengan metode  eksploratif, melalui survei (observasi langsung) untuk pengumpulan data fisik artefaktual dan studi pustaka untuk pengumpulan data kesejarahan yang terkait dengan peninggalan-peninggalan sumber tertulis berhuruf Arab (naskah-naskah) kuno di wilayah  Kabupaten Semarang dan sekitarnya.

Hasil yang diperoleh : Tim Penelitian telah memastikan bahwa naskah-naskah kuno berhuruf Arab di Kabupaten Semarang telah terdokumentasi, terdidentifikasi dan diketahui tentang pemikiran Islam awal dari naskah-naskah kuno berhuruf Arab di wilayah Kabupaten Semarang.

Data tersebut meliputi: Temuan naskah Al-Qur’an tulisan tangan di Masjid At-Taqwa, Dusun Kauman, Desa/Kelurahan Gogodalem, Kecamatan Bringin, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Empat naskah Al-qur”an tulisan tangan, dalam kondisi kurang terawat. Hanya satu naskah yang lengkap, tulisannya dari juz 1 sampai dengan juz 30, tetapi sampulnya sudah diganti dan hilang sampul depan. Naskah ke dua dimulai dari surat al-baqarah yang beberapa halaman depan hilang dan diakhiri dengan surat ann-nazi’at. Naskah ke tiga dimulai dari akhir surat Kahfi dan disambung dengan surat Maryam.

Satu naskah yang memuat 4 kitab, yaitu: Kitab Tauhid, Fiqh, Kitab al-Miftah Fii Syarhi a’rifatil Islam wa al-Iman, dan kitab tentang ilmu pengetahuan yang memuat tentang fadilah mencari ilmu dan keungulannya. Kitab tersebut berhuruf dan  berbahasa Arab,  dengan makna gandul menggunakan bahasa Jawa. Ditemukan dirumah Bu Fitri yang beralamat di Santren, Desa Wonokerto, Kecamatan Bancak, Kabupaten Semarang.

Naskah berikutnya adalah naskah yang  ditulis dalam bentuk tembang macapat Pangkur. Di bagian akhir naskah ditulis dengan pujian dan permohonan pertolongan kepada Allah tahun 1347 M (bihamdillaah wa ‘aunihi sanah 1347 M)Hasil pengumpulan data yang telah dilakukan dalam kegiatan  penelitian tersebut  adalah :

  1. Telah terdokumentasikannya naskah-naskah kuno berhuruf Arab di wilayah Kabupaten Semarang sebanyak 36 eksemplar naskah.
  2. Telah teridentifikasikannya sumber sumber tertulis berhuruf Arab  yang diperoleh di tengah masyarakat di beberapa wilayah kecamatan di Kabupaten Semarang.
  3. Telah diketahui pemikiran Islam awal dari sumber tertulis pada naskah kuno berhuruf Arab, melalui muatan-muatan yang terdapat di beberapa naskah, yaitu terdiri dari Al-Qur’an, fonologi (Tajwid), Fikih tata cara (beribadah), tauhid (aqidah) dan  tembang-tembang yang bermuatan tasawwuf.

Berkaitan dengan beberapa temuan naskah-naskah kuno berhuf Arab di beberapa wilayah Kabupaten Semarang, sebagian besar bukanlah naskah asli,  melainkan merupakan naskah salinan, antara lain dari kitab suci Al-Qur’an yang sengaja ditulis dengan tangan atau dikenal dengan sebutan “ Al-Qur’an tulisan tangan”. Dari sejumlah naskah Al-Qur’an tulisan tangan  yang ditemukan di wilayah Kabupaten Semarang. Ada sebagian kecil dari jumlah naskah kuno tersebut yang kemungkinan naskah asli, yaitu naskah yang bermuatan jenis-jenis tembang Jawa (pangkur, kinanthi, asmarandana, durma) dan tasawwuf.

Naskah-naskah kuno ini dapat dijadikan sebagai bukti bahwa Islam telah berkembang di beberapa daerah di pedalaman ataupun di daerah pegunungan. Hal ini terbukti dengan ditemukannya sejumlah naskah kuno yang jumlahnya relatif banyak yang tersebar di beberapa wilayah kecamatan di Kabupaten Semarang. Dari sejumlah naskah tersebut, naskah-naskah kuno yang Secara kronologis menunjuk pada abad ke-14 Masehi hingga abad ke-20 Masehi menunjukkan bahwa begitu pentingnya Al-Qur’an diajarkan kepada masyarakat, sebab di dalam Islam, Al-Qur’an merupakan sumber dari segala sumber hukum dan sumber ilmu pengetahuan.

Dalam struktur pendidikan Islam di Jawa, pelajaran Al-Qur’an diberikan dan diajarkan sebagai dasar pendidikan awal, (Dhofier,  1984  : 52). Dalam hal ini bukan berarti bawa pelajaran Al-Qur’an diajarkan di tingkat awal saja, akan tetapi diajarkan sampai kepada tingkat lanjut dan secara terus-menerus. Hal ini dimaksudkan untuk menambah pengetahuan secara lebih mendalam. Setelah masyarakat mampu mebaca Al-Qur’an, barulah diarakan kepada apa yang terkandung di dalamnya. Untuk mencapai kepada hal tersebut, bukanlah sesuatu yang mudah, karena harus memerlukan waktu yang relatif lama dan harus didukung dengan berbagai cabang ilmu pengetahuan, anatar lain tajwid (fonologi),sintaksis, morfologi, dan beberapa ilmu lain yang membicarakan tentang masalah, aqidah, syari’ah, fikih dan tasawwuf).

Naskah Kuno atau Manuskrip merupakan wujud fisik yang dapat dipegang atau dilihat, dan  melalui naskah-naskah inilah Ilmu Pengetahuan Islam bisa berkembang menjadi kumpulan tulisan yang dicetak, dibukukan, dan disebarluaskan ke masyarakat luas.

Sebagai sumber tertulis, naskah dianggap sebagai sumber penting dalam sejarah Indonesia kuno karena mampu memberikan informasi tentang peristiwa di masa lampau, bahkan mampu mengungkap  suatu alasan, mengapa suatu naskah dibuat. Salah satu bagian yang amat penting dalam sumber tertulis pada naskah  adalah penyebutan unsur-unsur penanggalan karena hal tersebut dapat memberikan gambaran kronologi, kapan suatu peristiwa itu telah terjadi. 

Seiring dengan berjalannya waktu, sebagian dari naskah-naskah kuno telah musnah dengan berbagai cara, meskipun sebagiannya lagi masih terpelihara dengan baik. Musnahnya naskah-naskah kuno yang sering terjadi antara lain diakibatkan oleh: gigitan serangga, ketajaman tinta, atau kelembaban cuaca. Akan tetapi, musnah atau rusaknya  naskah yang paling mengancam adalah ketidakpedulian manusia sebagai masyarakat pengguna. Di samping itu  terdapat kalangan negara asing sangat agresif dalam berupaya  memiliki naskah-naskah Islam Indonesia dengan ganti rugi yang menggiurkan, namun berbagai lembaga Indonesia, tidak mampu untuk ‘menandingi’ agresivitas kalangan luar tersebut, sehingga hanya bisa menyaksikan berpindahnya  naskah-naskah warisan Islam Indonesia tersebut.

Karena itulah, sudah saatnya pemerintah memberikan perhatian lebih besar terhadap perlindungan kekayaan Islam Indonesia. Jika peninggalan tersebut ‘hilang’ atau ‘berpindah tangan’, maka tidak bisa diperoleh kembali. Bahkan semakin banyak naskah Islam Indonesia yang mengalir ke luar negeri. Alhasil, bukan tidak mungkin pada waktu yang tidak terlalu lama lagi, para peneliti Indonesia sendiri harus pergi ke  luar negeri  untuk meneliti naskah-naskah warisan intelektualisme Islam di tanah airnya sendiri.

Updated: August 19, 2019 — 2:10 am

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Balai Arkeologi D.I Yogyakarta © 2016 ArkeologiJawa