Balai Arkeologi D.I Yogyakarta

Tidak Sekedar Membaca Masa Lalu

MENUJU PUNCAK MENCAPAI ANGIN

Lokasi obyek penelitian Bentuk dan Karakter Tinggalan Arkeologi di Lereng Utara Gunung Muria yaitu Candi Angin berada pada ketinggian 1420 meter dpal serta Candi Bubrah yang berada pada ketinggian 1317 meter dpal. Kedua lokasi penelitian tersebut memerlukan waktu tempuh 2,5 jam melalui motor dan dilanjutkan dengan berjalan kaki melalui beberapa tanjakan curam dan kelokan bukit yang tajam, namun segala peluh dan usaha terbayarkan setelah sampai di puncak dengan menikmati pemandangan landskap Muria dengan beberapa puncaknya seperti Puncak Saron, Puncak Kukusan, Puncak 29 (sapta argo), dan Puncak Rahtawu.

Di ketinggian antara 1400 – 1300 an ini kegiatan ekskavasi dilakukan, di Candi Angin berhasil membuka 3 kotak ekskavasi yaitu kotak ekskavasi yaitu kotak U1 T2,  T1 S1, dan B1 U4 dan di Candi Angin berhasil membuka 4 kotak ekskavasi yaitukotak T1 S1, S1 B1, B2 U3, dan B4 U1. Hasil ekskavasi di kedua candi tersebut memperoleh informasi temuan berupa beberapa fragmen miniatur candi dan lantai batu.

Di ketinggian antara 1400 – 1300 an ini kegiatan ekskavasi dilakukan, di Candi Angin berhasil membuka 3 kotak ekskavasi yaitu kotak ekskavasi yaitu kotak U1 T2,  T1 S1, dan B1 U4 dan di Candi Angin berhasil membuka 4 kotak ekskavasi yaitukotak T1 S1, S1 B1, B2 U3, dan B4 U1. Hasil ekskavasi di kedua candi tersebut memperoleh informasi temuan berupa beberapa fragmen miniatur candi dan lantai batu.

Kegiatan Eskavasi di Teras II Candi Angin

Pengumpulan data melalui ekskavasi ini menambah data yang berasal dari data temuan permukaan yang diperoleh juru pelihara situs candi angin pada saat melakukan kegiatan pembersihan situs sekitar tahun 2016 -2019 berupa temuan prasasti candi angin, miniatur candi, figurin terakota dan beberapa fragmen keramik asing

Rangkaian penelitian juga diadakan sosialisasi hasil penelitian sebagai kegiatan menginformasikan hasil penelitian kepada masyarakat serta memperoleh informasi balik dari masyarakat mengenai tinggalan arkeologi yang berada di Desa Tempur dan sekitarnya. Kegiatan Sosialisasi dilaksanakan pada tanggal 4 Agustus 2019 di Balai Pertemuan sekretariat Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Tempur dihadiri oleh Plt Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Jepara, Camat Keling, Kepala Desa (Petinggi) Tempur, perangkat Desa Tempur hingga tingkat RT.

Sosialisasi hasil penelitian menyampaikan informasi mengenai kegiatan survei arkeologi di kecamatan keling sekitarnya serta kegiatan ekskavasi di Candi Angin dan Candi Bubrah. Pada kesempatan ini juga disampaikan mengenai diinformasikan potensi alam, potensi budaya, serta potensi arkeologi di Desa Tempur sebagai modal utama mendukung Desa Tempur sebagai desa wisata. Potensi alam yang dimiliki Desa Tempur berupa lokasi yang subur berada di kawasan lembah (Kaldera) Muria Purba yang dialiri dua buah Sungai Gelis dan Sungai Pondok Ruyung.

Fitur-fitur alam lainnya berupa Bukit Bejagan, Air Terjun Kemresek, Sumur Batu, Watu Lumpang, dan Watu Tumpuk. Potensi Budaya Desa Tempur yang masih terpelihara dengan baik yaitu tradisi Sedekah Bumi yang dilaksanakan setiap Jum’at Wage pada bulan Apit. Potensi tinggalan arkeologi di Desa Tempuran yaitu Candi Angin, Candi Bubrah, Candi Aso, Kolam Batu, dan Punden Mbah Romban. Kegiatan sosialisasi ini selain pemaparan hasil juga diselingi dengan pemutaran film dokumenter “Sedekah Bumi Tahun 2019” yang diakhiri dengan foto bersama.

Berdasarkan hasil sementara kegiatan penelitian Bentuk dan Karakter Tinggalan Arkeologi Di Lereng Utara Gunung Muria sebagai berikut:

  1. Bentuk tinggalan arkeologi / cagar budaya di lereng utara Gunung Muria mengacu pada pengertian UUCB no. 11 tahun 2010 yaitu benda cagar budaya, bangunan cagar budaya, struktur cagar budaya, situs cagar budaya dan kawasan cagar budaya bahwa berdasarkan hasil penelitian dari tanggal 22 – 31 Juli 2019 diperoleh informasi yaitu mengenai variasi tinggalan arkeologi dari yang berbentuk benda (artefaktual) seperti miniatur candi, prasasti, fragmen figurin (arca terakota), serta fragmen wadah berbahan tembikar dan keramik; yang berbentuk struktur cagar budaya dan situs cagar budaya seperti  Candi Angin dan Candi Bubrah; sedangkan kawasan cagar budaya yaitu kawasan lereng utara Gunung Muria.
  2. Karakter tinggalan arkeologi di lereng utara Gunung Muria mengacu pada kajian dimensi dalam arkeologi yaitu ruang dan waktu diperoleh infromasi bahwa berdasarkan hasil temuan prasasti kawasan lereng utara gunung muria pada masa lalu diduga pernah dijumpai sebuah peradaban sekitar abad VIII – XIV Masehi. Mengacu pada tinggalan artefak berupa data artefaktual terakota yang berbentuk miniatur candi yang bervariasi, fragmen figurin dan keramik yang berasal dari wilayah Asia tenggara yang ditemukan di Candi Angin dan Candi Bubrah diduga berasal dari masa akhir majapahit sekitar abad XIII – XIV Masehi. Kajian kronologi secara absolut belum diperoleh dikarenakan pada kesempatan ini baru dilakukan pengampilan sampel arang untuk keperluan analisis kronologi. Ruang budaya yang terkait dengan aktifitas masa lampau dengan tinggalan arkeologinya yang berada di lereng utara Gunung Muria berada di wilayah yang bervariasi dari pegunungan hingga dataran rendah.
Updated: August 12, 2019 — 12:59 pm

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Balai Arkeologi D.I Yogyakarta © 2016 ArkeologiJawa