Balai Arkeologi D.I Yogyakarta

Tidak Sekedar Membaca Masa Lalu

SETTING OKUPASI DI SITUS-SITUS PLEISTOSEN – AWAL HOLOSEN KAWASAN GUNUNGSEWU, KABUPATEN PACITAN

Penelitian ini dilaksanakan pada tgl. 5 – 25 Juli 2019 di Kabupaten Pacitan khususnya di DAS Kali Baksoka.Tim terdiri atas berbagai kepakaran disiplin ilmu yaitu, arkeologi, geologi, geografi, dan komunikasi visual, khususnya gambar prasejarah. Seluruh anggota tim memiliki tugas masing-masing baik sebagai peneliti, teknisi ataupun administrasi sejumlah 11 orang, Tim diketuai Indah Asikin Nurani.

LATAR BELAKANG PENELITIAN        

Latar belakang penelitian didasarkan pada hasil penelitian yang dilakukan oleh  Muhammad Hidayat pada tahun 1993 – 1997, dengan judul “Bentuk-bentuk Pemanfaatan Sumberdaya Alam Kawasan Pegunungan Selatan Jawa Pada Masa Prasejarah”. Lokasi tema penelitian tersebut meliputi: Kabupaten Gunungkidul, Wonogiri, Pacitan, Ponorogo, dan Trenggalek. Interpretasi yang berhasil dibangun adalah, kawasan pegunungan selatan Jawa berdasarkan sumberdaya alamnya memiliki tinggalan budaya prasejarah baik paleolitik, mesolitik, neolitik, maupun megalitik. Tinggalan budaya tersebut menempati bentuk-bentuk lahan tertentu, seperti lahan sungai dengan kecenderungan dominasi tinggalan budaya paleolitik, bentuk lahan perbukitan cenderung didominasi tinggalan mesolitik dan megalitik, serta daerah lereng bukit sampai dataran didominasi tinggalan neolitik. Berdasarkan hal tersebut, disimpulkan terdapat korelasi antara bentuk lahan dengan okupasi yang pernah berlangsung pada masa lalu dengan kondisi fisik serta ketersediaan sumberdaya alam.

Berangkat dari hasil penelitian tersebut, maka dilakukan penelitian lanjutan yang menitikberatkan pada kawasan yang lebih lokus yaitu kawasan Gunung Sewu yang merupakan bagian dari Pegunungan Selatan Jawa. Hal tersebut dilakukan untuk mempertajam permasalahan dengan ruang lingkup yang lebih sempit. Adapun pokok permasalahan adalah setting okupasi situs-situs kawasan Gunung Sewu dalam konteks tinggalan kala Pleistosen hingga awal Holosen. Tinggalan budaya yang dimaksud adalah budaya paleolitik (daerah aliran sungai/DAS) sampai pada budaya mesolitik (hunian gua) dengan ketersediaan sumberdaya lingkungan alam sekitarnya.

Jangkauan survei lebih difokuskan pada kelokan sungai yang merupakan lokasi strategis bagi manusia purba kala Pleistosen dalam mempertahankan hidupnya. Selain itu, pengamatan kronostratigrafi pada teras sungai dan sebaran artefak terutama batu menjadi data utama dalam merunut setting tata ruang aktivitas kala Pleistosen yang mengembangkan teknologi paleolitik. Lokasi mana saja yang menjadi tempat bahan baku dengan berbagai produk alat, lokasi mana yang tidak dimanfaatkan sebagai aktivitas, dan lokasi mana yang menjadi pusat aktivitas.

Adapun jangkauan data budaya awal Holosen akan dicermati geomorfologi dan keletakan gua hunian prasejarah baik yang dimanfaatkan sebagai hunian jangka panjang maupun yang dihuni jangka pendek. Data yang digunakan lebih mengutamakan data sekunder dari ekskavasi yang pernah dilakukan peneliti sebelumnya. Data primer dari hasil penelitian ini nantinya lebih pada bentang lahan dan kajian geomorfologi. Faktor apa saja yang menjadi penyebab suatu gua dihuni dalam waktu lama beserta strategi adaptasi yang dilakukan. Data tersebut baik sekunder maupun primer akan diplotting dan dikaji dalam GIS. Selain itu akan dikaji juga, mengapa dan faktor apa yang menjadi penyebab gua-gua hunian di Jawa tidak atau belum ditemukan budaya lukisan cadas. Lukisan cadas selama ini sebagian besar ditemukan di Indonesia bagian Tengah dan Timur, namun pada dekade terakhir ini lukisan cadas ditemukan di Sumatera, Indonesia bagian Barat. Hal tersebut akan dikaji lebih dalam, bisa jadi di Jawa belum ditemukan saja. Sehingga nantinya dari penelusuran dapat terjawab apakah di Jawa memang tidak mengenal ataukah belum ditemukan saja lukisan cadas. Selanjutnya akan terumuskan, faktor apakah yang menjadi sebab hal tersebut, mengingat budaya hunian gua salah satunya adalah lukisan cadas.

Tujuan

Tujuan penelitian dimaksudkan untuk mengetahui beberapa hal berikut.

  1. Perkembangan budaya pada masing-masing bentuk lahan kawasan Gunung Sewu baik skala ruang (horisontal) maupun waktu (vertikal) di Kabupaten Pacitan.
  2. Pola adaptasi masing-masing jenjang budaya dalam mempertahankan hidupnya, di Kabupaten Pacitan.
  3. Lanskap dan setting kegiatan masing-masing budaya dari kala Pleistosen sampai awal Holosen di Kabupaten Pacitan.
  4. Faktor penyebab dan pendukung tidak atau belum adanya tinggalan lukisan cadas di kawasan Gunung Sewu.

Dalam pengumpulan data dilakukan survei baik pada sungai maupun gua, dengan memplot seluruh situs tersebut. Penamaan plot dinamai PCT diikuti nomor urut. Pengumpulan data berhasil meliputi 60 titik plotting. Plotting nantinya akan diolah lebih lanjut dalam kajian GIS, sehingga akan diketahui persebaran situs-situs. Seluruh situs selanjutnya akan diklasifikasi potensi arkeologis untuk direkonstruksi kronologi hunian secara vertical dan pemanfaatan ruang pada jejak okupasi yang berlangsung melalui kajian lanskape arkeologi dan setting okupasi. Selain itu akan dikaji lebih lanjut tentang bahan baku alat litik dan meluruskan sebutan “rijang”. Hal tersebut disebabkan pengertian rijang bukanlah chert, namun bahan yang lain. Untuk mengungkap material yang sebenarnya apa akan dikaji lebih lanjut melalui uji laboratorium.

Adapun untuk menjawab permasalahan yang dirumuskan tentang tidak atau belum ditemukan lukisan cadas di Jawa, maka dilakukan pengamatan pada dinding cadas/gua. Kajian secara mendetil selain dilakukan pengamatan di lapangan juga akan dilakukan uji laboratorium sehubungan dengan pewarna. Berdasarkan kajian mendalam terhadap dinding gua, diketahui hanya ada tiga gua yang memiliki media yang layak menjadi media lukis yaitu Song Keplek, Song Dono, dan Song Gupuh. Proses pembentukan dan pengendapan material pun juga akan dikaji sehubungan dengan terdekteksinya pernah atau tidak adanya jejak lukis. Selanjutnya berdasarkan proses alur air atau bahkan terjadinya banjir pun dapat menyebabkan jejak lukisan tidak terdeteksi.

LUARAN PENELITIAN YANG HARUS DICAPAI

  1. Morfologi lahan dengan potensi arkeologis baik skala ruang maupun waktu di Kabupaten Pacitan.
  2. Bentuk-bentuk sumberdaya alam sekitarnya (lokasi sumber bahan baku dan sumber makanan) dengan potensi arkeologis (artefak, ekofak, dan fitur) di Kabupaten Pacitan.
  3. Ruang (wadah/areal) dan fisik (peralatan), masing-masing potensi arkeologis, beserta konteksnya (tanda-tanda baik manifestasi maupun simbolis) di Kabupaten Pacitan pada kala Pleistosen sampai awal Holosen.
  4. Posisi geologis dan korelasi tinggalan budaya prasejarah Gunung Sewu dengan budaya lukisan cadas di Indonesia.

BUDAYA PALEOLITIK à SUNGAI SITUS TERBUKA

Pengamatan sepanjang aliran Kali Baksoka dari Jembatan Desa Nampol, yang terletak di Kecamatan Pringkuku dekat SD ke arah hulu dan hilir. Morfologi aliran Kali Baksoka membentuk lembah terjal dengan tebing sungai sempit-landai sampai agak datar. Dari Jembatan Nampol ke arah hulu, sungai ini mengalir di atas batuan breksi volkanik dan tuf dari Formasi Wuni yang di beberapa tempat teralterasi. Ke arah lebih hulu, sungai ini mengalir di batuan beku andesit Formasi Arjosari yang di beberapa tempat juga teralterasi. Terdapat beberapa indikasi sesar di sepanjang aliran Kali Baksoka. Ke arah hilir dari Jembatan Nampol, di aliran sungai terdapat batupasir kasar, lempung abu-abu kehitaman karbonan juga batubaraan, tuf dari Formasi Nampol dan batugamping Formasi Punung/Wonosari.

Pada dasar aliran sungai terdapat endapan alluvial resen arah hulu sungai Kali Baksoka mengandung banyak artefak dan bahan baku artefak “rijang”, material lain seperti fosil kayu kersikan, batuan andesit, batuan teralterasi, batugamping silisifikasi. Sama seperti halnya di daerah hulu sungai, di daerah hilir juga terdapat endapan alluvial resen sungai Kali Baksoka banyak mengandung artefak dan bahan baku artefak “rijang”, material lain seperti fosil kayu kersikan, batuan andesit, batuan teralterasi, batugamping silisifikasi.

Terdapat setidaknya tiga undak sungai Kali Baksoka, dengan endapan alluvial sungai yang banyak mengandung artefak dan bahan baku artefak “rijang”, material lain seperti fosil kayu kersikan, batuan andesit, batuan teralterasi, batugamping silisifikasi.

Di bagian dasar sungai, endapan alluvial point bar dengan material lepas kerikil-kerakal, 5-40 cm, terdiri atas artefak dan bahan baku artefak “rijang”, material lain seperti fosil kayu kersikan, batuan andesit, batuan teralterasi, batugamping silisifikasi.

BUDAYA MESOLITIK (HUNIAN GUA) – NEOLITIK (PERBENGKELAN – COCOK TANAM)

Beberapa situs gua hunian telah disurvei ulang terutama pengamatan geologi, geomorfologi serta stratigrafi situs bahan baku dan artefak Gua/Song Njomblang. Song Njomblang merupakan gua dengan endapan sungai bawah tanah ketebalan 40 – 120an cm, mengandung banyak tinggalan budaya dengan bahan rijang kuning dan subfosil fauna. Gua ini sangat potensi yang sangat perlu diteliti lebih lanjut.

Pengamatan geologi, geomorfologi serta stratigrafi situs bahan baku dan artefak Gua/Song Gede. Merupakan gua yang merupakan sebuah ceruk (shelter), dengan endapan celah (fissure deposits) yang menempel pada dinding gua/ceruk, kaya dengan subfosil fauna vertebrata, perkakas Neolitik dari bahan rijang kuning.

Pengamatan geologi, geomorfologi serta stratigrafi situs bahan baku dan artefak Gua/Song Tandu. Merupakan gua dengan endapan aliran endapan sungai bawah tanah, kaya dengan subfosil fauna vertebrata, perkakas Neolitik dari bahan rijang kuning.

Pengamatan geologi dan geomorfologi Ngrijang Sengon.

Daerah berupa sebuah cekungan dolina dikelililingi oleh bukit kerucut (cone hills) karst batugamping Formasi Punung/Wonosari. Di bagian dasar dolina yang menjadi lahan olahan, terdapat berlimpah perkakas Neolitik dari bahan rijang kuning (silicified limestone/silex/flint). Di bukit bagian selatan dengan ketinggian sekitar 30 meter dari dasar dolina terdapat horizon batuan silicified limestone berupa nodule yang sangat mungkin sebagai bahan baku perkakas Neolitik yang terdapat di dasar dolina.

Pengamatan kontekstual geologi, geomorfologi serta stratigrafi situs bahan baku dan artefak Hunian Daerah Aliran Sungai (DAS) Pacitan dan Hunian Gua.

Dari pengamatan, terlihat adanya dua pola perkembangan geomorfologi, sesuai dengan kondisi geologinya. Bagian utara yang didominasi oleh batuan terobosan dan batuan volkanik membentuk topografi landai-terjal sebagai sumber material bahan baku alat Paleolitik yang dikenal sebagai “rijang”, namun jika dipecah maka bagian dalamnya berwarna abu-abu, dalam penelitian ini disebut sebagai “rijang abu-abu – RA”, yang sebenarnya berupa batuan volkanik (andesit ?) teralterasi. Untuk memastikan perlu analisis petrologi.

Di bagian selatan, topografi berupa bukit kerucut (cone hills) karst dari batugamping Formasi Punung/Wonosari. Sebagian dari batugamping mengalami proses silisifikasi, terubah menjadi batugamping terkersikkan menjadi rijang kuning (RK) sebagai material bahan baku alat Paleolitik dan/atau Neolitik.

Berikut grafik prosentasi bahan baku alat Paleolitik dan Mesolitik – Neolitik yang ditemukan di aliran Sungai Baksoka dari Hulu ke Hilir

Grafik di atas menunjukkan bahwa bahan baku yang tersebar pada titik sampel aliran Sungai Baksoka hulu tidak ditemukan bahan baku material Maron (rijang kuning). Semakin ke arah hilir menunjukkan dominasi material Maron, sedangkan material Baksoka menipis. Hal tersebut menunjukkan bahwa transportasi material hulu Sungai Baksoka adalah rijang abu-abu yang terbawa arus tidak sampai ke hilir sungai. Adapun material Maron mendominasi areal hilir sungai. Material Maron merupakan material alat litik mesolitik-neolitik, sedangkan material Baksoka adalah alat litik paleolitik. Berdasarkan hal tersebut, maka sementara disimpulkan bahwa material hulu merupakan sumber bahan baku alat litik paleolitik, sedangkan bagian hilir merupakan material mesolitik dan neolitik rijang kuning yang berada di gua-gua hunian dan di lereng sampai bukit-bukit bengkel neolitik (beliung persegi). Secara pemetaan dapat digambarkan sebaran sumber material yang terdapat pada kawasan hulu – hilir Kali Baksoka dapat dilihat peta berikut.

prosentase material alat litik dari Hulu sampai Hilir Kali Baksok
Sebaran situs Pleistosen – awal Holosen kawasan Gunung Sewu, Kabupaten Pacitan
Peta geologi DAS Baksoka

Adapun dalam survei gua-gua mencari penyebab ada tidaknya gambar prasejarah di karst Pacitan meliputi beberapa hal.

Pertama Model Situs Hunian: Menelusuri situs penting yang mempunyai tinggalan Homo Sapiens, dan sekitarnya; dan kedua Model Eksosistem Sungai: Menelusuri beberapa situs pada sistem Sungai Baksoko, di luar situs katagori pertama.

Selain itu dilakukan model survei dalam mencari Media Gambar: Mencari dinding atau bongkahan yang berpotensi sebagai media gambar untuk piktograp atau piktoglip yang meliputi

  1. Model batuan endapan: Memeriksa situs-situs berbatuan endapan
    1. Model batuan vulkanik: Menelusuri sebaran batuan vulkanik yang berada di Pacitan

Selanjutnya telaah Materil: Mengambil material yang diduga merupakan sisa bahan warna, dan akan ditelaah di Laboraorium ITB; model survei terakhir adalah,

Menelusuri situs situs lain yang dianggap potensi.

Berdasarkan model survei tersebut, dihasilkan beberapa hal berikut.

  1. Pada situs berbatu endapan yang diperkirakan bermedia gambar yang baik, diambil beberapa sample warna untuk dianalisi materialnya, yaitu: Song Keplek (2 sample); Song Tabuhan (1 sample); Song Gupuh (1 sample); Song Eko 1 (1 sample); Song Kenong Kalih (1 sample);
  2. Pada situs berbatu endapan yang diperkirakan bermedia gambar yang baik, diambil beberapa foto pada dindingnya untuk dianalisis dengan program iDstrech, yaitu: Song Keplek, Song Tabuhan, Song Gupuh;
  3. Pada batuan beku, ditemukan tatahan jaman klasik di Watu Ngerco, dan hal ini membuktikan bahan batuan beku di daerah Pacitan berpotensi menjadi media petroglip.

SIMPULAN

Berdasarkan pengumpulan data melalui survey, maka dapat disimpulkan sementara beberapa hal.

  1. Terdapat persebaran bahan baku alat-alat Paleolitik di bagian Hulu dan Hilir Sungai Baksoka yang berbeda. Pada bagian hulu bahan baku cenderung merupakan bahan baku “rijang” abu-abu. Hal tersebut disebabkan material bahan baku yang di permukaan tampak rijang atau silisified limestone, ternyata setelah dipecah berwarna abu-abu. Kemungkinan abu-abu adalah batuan beku (andesit (?) teralterasi. Hal tersebut didukung lingkungan sekitar merupakan endapan vulkanik.
  2. Bahan baku yang selama ini diyakini sebagai rijang akan diuji laboratorium untuk meyakini kandungan apa yang menyebabkan berwarna abu-abu setelah dipecah.
  3. Terdapat sebaran bahan baku yang signifikan pada bagian Hulu Sungai Baksoka merupakan alat Paleolitik, semakin ke arah selatan sampai Hilir di Sungai Maron menunjukkan bahan baku rijang kuning. Bagian Hilir sebagian besar merupakan material dari lereng perbukitan di atas sungai yang merupakan perbengkelan neolitik dan gua hunian.
  4. Terdapat pemanfaatan lahan di sekitar Sungai Baksoka, yaitu pada bagian barat dan beberapa di selatan merupakan sebaran jejak budaya awal Holosen yaitu hunian gua dan perbengkelan neolitik. Adapun perkembangan produk alat paleolitik dengan bahan baku rijang abu-abu tersebar di bagian Hulu sampai ke Sungai Girindulu. Berdasarkan hal tersebut, tampak bahwa bahan baku antara produk alat paleolitik berbeda dengan bahan baku produk mesolitik dan neolitik.
  5. Tidak atau belum ditemukannya gambar cadas, salah satu penyebabnya dikarenakan Kawasan Karst Pacitan sebagai bagian dari Bentang Alam Karst Gunung Sewu diduga mempunyai siklus banjir ‘besar’ 50 tahun-an. Siklus terakhir pada tahun 2018 membuat lorong Situs Song Terus 2/3 nya terbanjiri oleh air. Hal tersebut berpotensi menghapus gambar petrograf.  Siklus 50 tahun terdekat dari 2018 adalah banjir besar pada 1965-1966. Selain itu disebabkan juga karena cepatnya dinding gua tertutup endapan tanah dan pasir. Tanah yang menutup dinding ini berpotensi menghilangkan gambar petrograf. Dugaan lainnya adalah dikarenakan manusia yang tinggal dan membangun ‘budaya’ pada kawasan Pacitan memang tidak melakukan praktek gambar-cadas.
Updated: July 31, 2019 — 4:51 am

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Balai Arkeologi D.I Yogyakarta © 2016 ArkeologiJawa