Balai Arkeologi D.I Yogyakarta

Tidak Sekedar Membaca Masa Lalu

SUNGAI BRANTAS DALAM PERSPEKTIF LANSKAP KULTUR MARITIM

Sungai Brantas adalah sungai kedua terpanjang di Pulau Jawa, setelah Bengawan Solo. Kedua sungai tersebut berperan besar dalam pertumbuhan kehidupan dan kebudayaan masyarakat di Pulau Jawa. Bukti arkeologis tertua yang berkaitan dengan Sungai Brantas adalah Prasasti Kamalagyan (1037 M), yang mencatat bahwa para pedagang dari jauh datang ke Jawa melalui jalur sungai ini. Setelah itu kebudayaan terus berkembang di sepanjang delta Sungai Brantas. Penelitian arkeologi yang berkaitan dengan Sungai Brantas sejauh ini telah cukup banyak dilakukan di wilayah hulu dan wilayah tengah, sementara wilayah hilir belum banyak diteliti.

Penelitian yang dilaksanakan pada tanggal 1 sampai dengan 20 Juli 2019 ini difokuskan di Kali Porong, yang merupakan wilayah hilir Sungai Brantas, serta wilayah muaranya di Selat Madura. Penelitian ini bertujuan untuk menelusuri peranan Sungai Brantas sebagai penghubung daerah pedalaman Jawa dengan daerah-daerah lain di luar Jawa. Oleh karena itu, penelitian ini menerapkan pendekatan lanskap kultur maritim, dimana laut, sungai dan daratan dilihat sebagai sebuah kesatuan kognitif. Pengumpulan data dilakukan dengan melakukan survei arkeologi terrestrial di sepanjang aliran Kali Porong, survei side scan sonar di Kali Porong, serta survei arkeologi bawah air dengan penyelaman SCUBA di Selat Madura.

Hasil sementara penelitian maritim Brantas ini menunjukkan tingginya dinamika aktivitas di sepanjang Kali Porong sejak abad XI M hingga abad XX M, yang diindikasikan oleh variasi tinggalan arkeologi mulai dari candi hingga rumah-rumah Indies di sepanjang aliran Kali Porong.  Hasil tumpang susun peta menunjukkan adanya pergeseran garis pantai menjadi lebih ke timur, menunjukkan pada masa lalu Kali Porong bermuara di sebuah teluk yang cukup besar, ideal sebagai lokasi pelabuhan. Selain itu, jalur Kali Porong, baik aliran lama maupun aliran sekarang, adalah sungai yang lebar dan cukup dalam sehingga sangat mungkin dilalui perahu-perahu untuk berlayar hingga ke percabangan Sungai Brantas di daerah Mojokerto sekarang.

Updated: July 24, 2019 — 2:44 am

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Balai Arkeologi D.I Yogyakarta © 2016 ArkeologiJawa