Balai Arkeologi D.I Yogyakarta

Tidak Sekedar Membaca Masa Lalu

Situs Liyangan Penemuan, Perjuangan dan Kerja Keras

Pertama Kali Arkeolog Tiba di Liyangan

Siang itu di lereng Sindoro hari tampak suram. Hujan rintik memaksa kami berteduh di salah satu gubuk yang meski dibangun seadanya namun menjadi tempat yang sangat mewah di lokasi itu. Bukan hanya karena takut kuyup, tetapi juga karena cengkeraman dingin dan diganggu oleh hilir-mudik gumpalan kabut yang ditiup angin yang menjadi alasan mengapa kami harus berteduh di situ. Kali Liyangan hanya belasan meter jauhnya di depan kami, arah barat. Dari seberang kali Liyangan, suara gaduh khas tambang pasir terdengar lebih jelas dibandingkan pandangan mata yang samar karena tirai rintik hujan yang bersekongkol dengan kabut. Kali Liyangan benar-benar tegas memisahkan lokasi tambang di sisi barat dengan gubuk di sisi timur tempat kami berteduh, menjadikan kami merasa terasing. Truk-truk pengangkut pasir keluar dan masuk gumpalan kabut, menyeruak tanpa ragu, hilir-mudik di depan kami, tanpa mengacuhkan kami yang mulai tidak sabar ingin melihat batu-batu candi yang mereka temukan.

Hujan di lereng Gunung Sindoro pada Januari 2009 itu rupanya mengetahui kedatangan kami, bahkan seperti mengerti maksud dan tujuannya sehingga seketika jeda untuk menghormati ketidaksabaran kami. Setelah hujan mulai reda, bergegas kami meniti batang pohon kelapa yang dijadikan jembatan darurat untuk menyeberang Kali Liyangan menuju lokasi tambang. Tiba di areal tambang, segera kami sapa dan salamai orang-orang terdekat dan yang memperhatikan kedatangan kami, tidak semuanya karena jumlahnya puluhan dan semua sibuk dengan pekerjaan tambangnya. Dusun Liyangan, Desa Purbosari, Kecamatan Ngadirejo, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, itulah informasi pertama yang kami peroleh dari warga mengenai lokasi ini. Desember 2008, adalah informasi ke-dua yang kami catat berkenaan dengan waktu ditemukannya, batu-batu candi; sedangkan betengan, arca, batu candi, serta kereweng gerabah dan keramik Cina, menjadi informasi berikutnya.

Salah satu poster pojok peradaban 2018

Setelah merasa nyaman dengan keakraban yang tidak dibuat-buat, baik dengan penambang maupun dengan kegaduhan kegiatan tambang, saatnya merekam data arkeologi di lokasi tambang dan di sekitarnya. GPS merekam bahwa lokasi itu berada pada kisaran astronomis 7 15’7.57” LS dan 110 1’34.26” BT dengan elevasi 1200 meter dari muka laut. Hari sudah tidak lagi suram, bahkan semakin terang karena kabut pergi dengan teratur dihalau matahari, namun Gunung Sindoro di arah barat-daya belum juga tampak meski puncaknya hanya berjarak sekitar 8 Km dari tempat kami bekerja. Sejumlah data arkeologi berupa talud batu, batu candi, arca batu, yoni, dan beberapa fragmen artefak merupakan informasi paling dominan dalam catatan kami. Catatan itu menjadi catatan pertama yang dibuat oleh arkeolog tentang adanya jejak peradaban yang terkubur muntahan material vulkanik di Dusun Liyangan, di lereng Sindoro.

Tidak sulit untuk memastikan bahwa benda-benda itu adalah buah karya sebuah peradaban kuno. Ragam benda-benda itu bahkan mampu mangantar imajinasi pada adanya hunian yang kompleks dan pada suatu hari harus menerima takdir tersapu habis oleh material Sindoro. Material itulah yang kini menjadi rejeki bagi warga dengan menambangnya, hingga akhirnya jejak peradaban kuno itu ditemukan. Talud kuno dari batu di dinding  tebing begitu kokoh dan dinding, seperti menantang arkeolog untuk memacu lebih keras jelajah imajinasinya agar mampu menerobos ke masa lalu. Cukup lama mata dan pikiran terfokus pada talud itu, beberapa kali fokus berpindah ke sekumpulan benda-benda kuno yang lain di dekatnya, berpindah lagi ke talud, dan akhirnya tergapailan keniscayaan bahwa lokasi ini ada di pinggir sebuah unit peradaban kuno! Peradaban itu tersegel oleh material vulkanik yang tengah ditambang oleh warga. (Narasi Sugeng Riyanto, untuk Poster Pojok Peradaban Liyangan 2018)

Updated: May 28, 2019 — 4:04 am

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Balai Arkeologi D.I Yogyakarta © 2016 ArkeologiJawa