Balai Arkeologi D.I Yogyakarta

Tidak Sekedar Membaca Masa Lalu

Proses Pembentukan Data Arkeologi Bawah Air Kapal Liberty di Tulamben (Jurnal Berkala Arkeologi)

Bangkai Kapal USAT Liberty merupakan salah satu tinggalan Arkeologi Bawah Air (ABA) yang cukup menarik minat kalangan wisatawan selam, dalam artikel ini akan dibahas mengenai proses pembentukan data arkeologi pada kapal Liberty yang tenggelam beserta faktor yang mempengaruhinya hinngga tampak seperti saat ini.

Situs ini terletak si Perairan Tulamben, Desa Tulamben, Kecamatan Kubu, Kabupaten Karangasem, Bali. Kapal ini tenggelam karena ditembak oleh Kapal Selam Jepang I-166 ketika melewati selat Bandung , proses tengelamnya kapal ini tidak secara langsung namun mengalami serangkaian proses deposisi ( deposisi menurut KBBBI memiliki pengertian : pembentukan kumpulan materi seperti sedimentasi, pergerakan, penyulutan secara elektrik, dan pengendapan ) baik yang disebabkan oleh faktor alam maupun manusia. Tenggelamnya kapal ini disebabkan oleh adanya proses dinamika pesisir yang berlangsunng secara terus meenerus. Selain itu juga karena terkena dampak letusan Gunung Agung tahun 1963.  

Jalur Penyelaman dan Sebaran Bangkai Kapal Liberty (Pratama, 2012 :37)

Pembentukan data bangkai Kapal Liberty marupakan hasil gabungan dua macam proses, yaitu proses tingkah laku pendukungnya (Behavioral processes) dan proses transformasi (Transformational processes) setelah objek terdeposisi.

Proses Behavioral merupakan proses yang terjadi ketika objek masih berada dalam konteks sistem, proses ini terdiri dari :

  1. Pengadaan (procuremnet)
  2. Pengolahan (manufacture)
  3. Penggunaan (use)
  4. Dibuang (discard)

Selain keempat proses tersebut, proses behavioral juga terjadi ketika objek telah berada dalam konteks arkeologi. Artinya objek kembali masuk dalam tatanan sistem budaya manusia, sehingga dapat digunakan kembali, diolah ulang dan dimanfaatkan untuk kepentingan lain.

Proses Transformasi, merupakan perubahan dan pembentukan data Kapal Liberty yang dimulai dari tahap terdeposisi hingga ditemukan kembali dalam bentuk bangkai kapal, terdapat 2 faktor penyebab terbentuknya data arkeologi yaitu :

  1. Cultural Formation Processes (manusia yang merubah artefak setelah masa pengunaanya berakhir)
  2. Noncultural Formation Processes (merupakan proses lingkungan yang berpengaruh terhadap artefak, baik ketika masih berada dalam konteks sistem maupun sudah berada dalam kontkes arkeologi)

Artikel ini adalah salah satu Artikel dari Jurnal Berkala Arkeologi pada edisi Mei 2018, yang secara lengkap dapat di unduh pada tautan beriktu : KLIK DI SINI

Updated: May 10, 2019 — 5:09 am

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Balai Arkeologi D.I Yogyakarta © 2016 ArkeologiJawa