Balai Arkeologi D.I Yogyakarta

Tidak Sekedar Membaca Masa Lalu

POTENSI GUA KAWASAN KARST ZONA REMBANG DI JAWA SEBAGAI HUNIAN PRASEJARAH

Kawasan Karst Zona Rembang membentang dari Jawa Tengah hingga ke Kepulauan Madura. Di bagian Jawa lainnya terdapat pula barisan karst Pegunungan Selatan. Dua kawasan karst di Jawa ini memiliki intensitas penelitian arkeologi yang berbeda, dengan kawasan Pegunungan Selatan menerima porsi penelitian yang lebih banyak dari kawasan karst di bagian utara. Sedangkan data dari kawasan kawasan karst di bagian Utara Jawa terutama baru diperoleh dari Blora, Tuban, dan Gresik. Hal inilah yang menggarisbawahi pentingnya penelitian arkeologi kawasan karst di Zona Rembang, terutama di kabupaten Rembang yang belum pernah dijajagi potensi arkeologi pada situs-situs guanya. Dengan terlaksananya penelitian ini, diharapkan kita memperoleh gambaran lebih jelas mengenai konteks prasejarah di kawasan karst Zona Rembang, dan korelasinya dengan kawasan karst Pegunungan Selatan Jawa.

Penelitian ini dilaksanakan dengan metode surve gemorfologis dan survei arkeologis. Survei geomorfologis bersifat penjajakan (reconnaissance survey), berpedoman pada peta yang diturunkan dari foto udara, peta RBI, DEM SRTM, dan peta geologi. Survei lapangan dilakukan melalui pengamatan dan pengukuran tipe relief dan kondisi geologis. Survei arkeologis menggunakan daftar isian (checklist) untuk merekam data. Informasi juga digali melalui wawancara dengan warga yang ditemui di lapangan, terutama untuk mengetahui nama gua, pemanfaatan gua selama ini, ada tidaknya temuan arkeologis, ada tidaknya penggalian/ penambangan, dan gambaran mengenai perubahan lantai gua. Hasil dari survei tersebut kemudian dibagi menjadi beberapa variabel, yaitu variabel kandungan arkeologis gua, aksesbilitas, dan morfologis. Dari ketiga variabel ini kemudian dilakukan pengharkatan menggunakan pendekatan GIS untuk menilai potensi arkeologis suatu gua.

Dalam penelitian ini terdapat lebih dari 50 titik gua yang menjadi objek pengamatan. Beberapa dari gua tersebut memenuhi persyaratan untuk dihuni, namun tentu saja untuk membuktikan gua-gua ini benar dihuni atau tidak pada masa prasejarah diperlukan penelitian lebih lanjut. Karakter kawasan yang memiliki potensi hunian juga berbeda dengan dengan kawasan di Pegunungan Selatan Jawa. Di kawasan batu gamping Formasi Paciran potensi hunian guanya terbilang kecil karena mayoritas tipe guanya adalah vertikal. Jika kawasan Formasi Paciran ini dahulu dihuni, maka huniannya kemungkinan berada di situs terbuka atau di ceruk-ceruk. Ceruk yang memenuhi syarat untuk dihuni ditemukan bukan di Formasi Paciran, namun di daerah perbatasan antara Formasi Wonocolo dan Bulu. Lain halnya dengan ceruk, gua-gua yang berpotensi dihuni di Rembang lebih banyak ditemukan di lereng-lereng Gunung Lasem. Proses geologi aktivitas gunung tersebut dan interaksinya dengan batu gamping Formasi Wonocolo telah memungkinkan terbentuknya gua-gua yang memenuhi syarat untuk dihuni pada masa prasejarah.

Aktivitas Survey di Gua Bedug, Kabupaten Rembang (Dok. Balai Arkeologi DIY)
Aktivitas Survey di Ceruk Watuputih, Kabupaten Rembang (Dok. Balai Arkeologi DIY)
Menyusuri tebing untuk mencapai salah satu gua di Kecamatan Sarang, Kabupaten Rembang (Dok. Balai Arkeologi DIY)
Menerabas semak belukar di Kecamatan Sale, Kabupaten Rembang
(Dok. Balai Arkeologi DIY)
Beristirahat sejenak di tepian tebing Kecamatan Sale, Kabupaten Rembang
(Dok. Balai Arkeologi DIY)
Menyusuri jalan setapak di Kecamatan Sedan, Kabupaten Rembang
(Dok. Balai Arkeologi DIY)
Updated: April 16, 2019 — 4:35 am

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Balai Arkeologi D.I Yogyakarta © 2016 ArkeologiJawa