Balai Arkeologi D.I Yogyakarta

Tidak Sekedar Membaca Masa Lalu

Lanskap Arkeologi Dalam Perspektif Prosesual Dan Pasca-Prosesual: Studi Kasus Kompleks Megalitik Di Dataran Tinggi Jambi

The development of archaeology paradigm from processual to postprocessual, influence the archaeologists thought about landscape. Sometimes, the landscape in archaeology is arduous understood because overlapping with other studies. Actually, this problem can be solved if we analyze the development of archaeology paradigm which associated with landscape study. This article attempts to discuss the ambiguity of landscape in archaeology with case study on the megalithic complex in Jambi Highland. Based on the data, it is known that: landscape in procesual study just explain the association between megalithic with burial-jars, mountains, settlements, and natural resources around it. The result which obtained in this perspective, was an explanation of megalithic function based on the relationship between sites and environment. Conversely in post-processual, attempts to interpret about megalithic complex in Jambi Higland based on individual (including researcher perception) or community perceptions. The result obtained in postprocessual, can answer questions about the unevenness of megalithic orientation and the difference of megalithic locations.

Perkembangan paradigma arkeologi dari prosesual ke pasca-prosesual turut pula memengaruhi pemikiran para arkeolog tentang lanskap. Lanskap dalam kajian arkeologi terkadang sulit dipahami karena dianggap tumpang tindih dengan bidang kajian lain, misalnya dengan kajian arkeologi lingkungan. Oleh sebab itu, konsep lanskap arkeologi oleh beberapa ilmuwan sering disebut sebagai konsep ambigu. Padahal seyogyanya, persoalan ini bisa diatasi bila kita menelaah perkembangan paradigma arkeologi dalam kaitannya dengan penelitian tentang lanskap. Tulisan ini berupaya mengupas persoalan tersebut dengan mengambil kasus pada distribusi megalitik di Dataran Tinggi Jambi. Distribusi megalitik ini dikaji dengan menggunakan dua kerangka pikir yang berbeda yaitu prosesual dan pasca-prosesual. Tujuannya adalah untuk melihat perbedaan hasil yang diperoleh saat menggunakan paradigma yang berbeda meskipun pada objek yang sama. Berdasarkan telaah terhadap data yang diperoleh melalui studi kepustakaan didapatkan hasil bahwa: kajian lanskap secara prosesual hanya mampu menjelaskan hubungan antara megalitik dengan kubur tempayan, gunung, permukiman, sumberdaya alam di sekitarnya. Hasil yang diperoleh dalam kerangka paradigma ini adalah penjelasan mengenai fungsi megalitik dengan melihat relasi antar situs maupun situs dengan lingkungannya. Sebaliknya dalam perspektif pasca-prosesual, berupaya menginterpretasi tinggalan megalitik baik dari sudut pandang individu seperti peneliti sendiri maupun kelompok seperti komunitas di sekitar megalitik. Hasil yang didapat melalui perspektif ini, mampu menjawab permasalahan ketidakseragaman arah orientasi dan perbedaan lokasi penempatan megalitik berdasarkan legenda, tradisi lisan dan kosmologi.

Untuk link donwload artikel silahkan di KLIK DI SINI

Updated: April 12, 2019 — 7:20 am

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Balai Arkeologi D.I Yogyakarta © 2016 ArkeologiJawa