Balai Arkeologi D.I Yogyakarta

Tidak Sekedar Membaca Masa Lalu

RINGKASAN HASIL PENELITIAN PERMUKIMAN KUNO SITUS LIYANGAN 2018

Akumulasi hasil penelitian sejak 2010 menunjukkan bahwa Liyangan merupakan situs yang sangat kompleks, selain areanya yang juga luas. Kompleksitas situs Liyangan diperlihatkan oleh keragaman data yang hampir semuanya dalam kondisi hangus karena terdampak oleh erupsi Gunung Sindoro. Data tersebut meliputi 1) struktur dan bangunan terdiri atas candi, batur, pagar, talud, dan jalan batu 2) fitur yang terdiri atas lubang-lubang bekas tiang bambu maupun kayu serta fitur lahan pertanian, 3) artefak berbahan keramik Tiongkok masa Dinasti Tang berbagai bentuk; artefak wadah berbahan tembikar; artefak batu seperti manik-manik, pipisan, dan gandik; serta artefak berbahan logam berbagai bentuk, 4) data organik, dalam hal ini merupakan data yang tergolong langka, yaitu kain berbentuk lembaran dan kantong bertali; bahan pangan dan hasil pertanian seperti gabah, pala, dan biji-bijian; fragmen kayu dari unsur bangunan maupun pohon, 5) ekofak yang umumnya meliputi fragmen tulang fauna. Keragaman data itu menunjukkan bahwa Liyangan bukan sekadar situs pemujaan tetapi cenderung sebagai situs permukiman yang sedikitnya meliputi area hunian, pertanian, dan pemujaan. Sebagai bagian dari seri penelitian jangka panjang, tahun 2018 difokuskan pada tiga bidang yaitu hunian, religi, dan lingkungan. Lokasi ekskavasi dipilih di luar area pemujaan (kompleks percandian) berdasarkan hasil survei yang menunjukkan potensi data untuk mengungkap tiga bidang fokus penelitian 2018, letaknya sekitar 120 meter dari candi utama.

Hasilnya, bidang hunian ditandai dengan ditemukannya spot pelataran atau halaman beserta bangunannya yaitu  “rumah” panggung berbahan kayu, bambu dan ijuk. Semua dalam bentuk arang karena bangunan “rumah” itu terlanda materi letusan Gunung Sindoro pada abad ke-11. Pelataran dilindungi dengan talud boulder setinggi sekitar 1,5 meter, permukaannya padat, relatif rata, ada tatanan boulder lainnya sebagai pembagi halaman, ada pecahan kecil-kecil tembikar dan keramik, bahkan terlihat bekas-bekas aktifitas masa lalu di permukaan tanah pelataran. Bangunan “rumah”-nya  berjarak 10 meter dari talud. Komponennya terbilang lengkap, ada umpak batu sebagai alas tiang, papan untuk lantai, balok dan papan penyekat ruangan, anyaman bambu, usuk, reng, hingga tumpukan ijuk untuk atapnya. Karena kondisi arang sisa bangunan tersebut sangat rapuh, maka ekskavasi dilakukan dengan sangat hati-hati. Tidak seluruh material vulkanik yang “menyegel” komponen dibuka, oleh karena itu ada hal-hal yang belum dapat diketahui seperti  ukuran bangunan, bentuk, arah hadap, dan tata ruangnya. Kronologi sisa “rumah” ini didasarkan pada pecahan keramik dari Dinasti Tang, abad ke-9, dan untuk melengkapinya telah diambil tiga sampel arang masing-masing satu dari kayu, bambu, dan ijuk sebagai bahan analisis karbon 14 di BATAN, Jakarta. Selain itu, direncanakan juga menganalisis jenis-jenis kayunya dengan mengirimkan sampel ke laboratorium di Fakultas Kehutanan UGM Yogyakarta.

Di bidang religi, hipotetis adanya fase pra-Hindu dan fase transisi pra-Hindu ke Hindu, diperkuat dengan ditemukannya struktur boulder di belakang blok-blok batu pada struktur talud yang membatasi teras 2 dan teras 3. Dapat dibayangkan bahwa sebelum ada pengaruh anasir India (dengan budaya dan agama Hindunya), seluruh bangunan di situs Liyangan berbahan boulder, bukan blok-blok batu, karena blok batu identik dengan bangunan candi. Hasil peneitian Di bidang lingkungan, hasil penelitian menunjukkan bahwa Kali Langit yang membelah situ menjadi bagian barat dan bagian timur, adalah aliran sungai “baru”, terbentuk setelah letusan besar Gunung Sindaro abad ke-11. Indikasi yang memperkuat hal itu adalah ditemukannya fitur lubang-lubang kayu bekas tiang atau pagar, bahkan juga ada struktur boulder yang berada di tengah aliran kali Langit. Artinya ada bangunan terlebih dahulu sebelum ada aliran sungai.

Dengan hasil penelitian tersebut, jelas sekali situs Liyangan merupakan spot peradaban kuno yang sangat luas, setidaknya area situs hingga lokasi temuan sisa rumah kayu. Terkait dengan hal itu, potensi pengembangan penelitian juga semakin terbuka, sekaligus sebagai tantangan ke depan. Seiring dengan hal itu, aspek pelestarian menjadi sangat krusial, mengingat semakin banyaknya data arkeologi yang rawan secara fisik seperti fitur, arang atau data organik lainnya, serta banyaknya struktur boulder yang tidak sekokoh konstruksi bangunan candi.

Updated: November 9, 2018 — 1:14 am

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Balai Arkeologi D.I Yogyakarta © 2016 ArkeologiJawa