Balai Arkeologi D.I Yogyakarta

Tidak Sekedar Membaca Masa Lalu

Pasang Surut Aktivitas Kemaritiman di Teluk Rembang Abad VII-XVI

Tim Penelitian Balai Arkeologi DI Yogyakarta melakukan penelitian di wilayah Kabupaten Rembang pada tanggal 11 sd 28 Agustus 2018. Topik penelitian berkenaan dengan  aktivitas-aktivitas kemaritiman di Teluk Rembang Abad VII-XVI. Teluk Rembang  diapit oleh dua tanjung yang masing-masing berdiri gunungapi tua. Pada tanjung di bagian barat terdapat Gunung Muria yang berada di Kabupaten Jepara dan Kabupaten Pati, sedangkan tanjung di sebelah timur terdapat  Gunung Lasem yang berada di Kabupaten Rembang.  Dataran pantai teluk berada di wilayah Kabupaten Rembang dan Kabupaten Pati. Pada teluk tersebut bermuara sungai-sungai yang berasal dari Gunung Muria dan Gunung Lasem serta dari pegunungan kapur di bagian selatan.

Penelitian arkeologi yang berkaitan dengan situs-situs bandar pelabuhan dan tumbuh kembangnya permukiman di wilayah Teluk Rembang telah dilakukan oleh Soejatmi (1980), Titi Surti Nastiti dan Rangkuti (1988) dan Rangkuti (1996;1998; 2000). Hasil-hasil penelitian tersebut mengindikasikan adanya pelabuhan-pelabuhan sejak masa Majapahit abad XIV hingga masa berkembangnya kerajaan-kerajaan Islam abad XIV di pesisir utara Jawa. Babad Lasem mengisahkan adanya pelabuhan-pelabuhan Majapahit di wilayah Lasem, Kabupaten Rembang. Disebutkan nama lokasi pelabuhan, yaitu Kiringan dan Regol. Penelitian arkeologis  pada kedua lokasi tersebut menemukan bukti-bukti arkeologis dari masa Majapahit sampai abad XVI. Selain di Kiringan dan Regol terdapat pula pelabuhan-pelabuhan di muara Sungai Lasem di Desa Dasun dan di Bonang Binangun. Pelabuhan tersebut masih berfungsi pada awal abad XX (Rangkuti 1998:  ).

Pada bulan Juli 2008 ditemukan perahu kuna di Punjulharjo, Kecamatan Rembang Kota, Kabupaten Rembang, Provinsi Jawa Tengah oleh petani garam. Perahu kuna yang ditemukan merupakan jenis perahu papan yang menggunakan teknik papan ikat dan kuping pengikat (sewn plank and lushed technique). Perahu yang berukuran panjang 15 meter dan lebar tersisa 4,6 meter itu bertarikh 660-780 Masehi (Abbas 2013:59,67).

Temuan perahu kuna di Punjulharjo membuka peluang untuk menelusuri kembali jalur Selat Muria sebagai jalur transportasi air. Berdasarkan kajian geologi diketahui Gunung Muria dahulu terpisah dari Pulau Jawa (Bemmelen.1949). Pulau Jawa dan gunungapi purba tersebut dipisahkan oleh selat, yaitu Selat Muria. Dalam babad-babad lokal disebutkan selat tua itu masih berfungsi pada masa Kerajaan Demak abad XVI Masehi. Pada zaman dahulu wilayah Demak terletak di tepi selat di antara Pegunungan Muria dan Jawa dimana selat itu dapat dilayari dengan baik sehingga kapal dagang dari Semarang dapat mengambil jalan pintas itu untuk berlayar ke Rembang (de Graaf dan Pigeaud, 2003:38).

Keberadaan Selat Muria pada masa lalu juga dikaji dengan pendekatan paleogeomorfologi oleh Sunarto (2004) dalam disertasinya. Dataran pesisir di wilayah bagian selatan Gunung Muria semula adalah selat dengan energi gelombang yang rendah, kemudian selat itu mengalami pelumpuran (Sunarto 2004;176).

Pertanyaan-pertanyaan penelitian yang diajukan yaitu:

  1. Aktivitas-aktivitas apa saja yang berkaitan dengan kemaritiman di Teluk Rembang pada abad VII-XVI?
  2. Adakah hubungan antara tinggalan-tinggalan arkeologis yang berkaitan dengan aktivitas kemaritiman di Teluk Rembang dengan Selat Muria sebagai jalur maritim kuna?.

Tujuan penelitian untuk mengungkap berbagai aktivitas yang berkaitan dengan kemaritiman di Teluk Rembang  pada  abad VII Masehi sampai abad XVI Masehi dan hubungannya dengan Selat Muria sebagai jalur maritim pada masa lalu.

 Survei dan Ekskavasi

Tim melakukan survei di sekitar Situs Punjulharjo. Di sebelah timur situs pada jarak sekitar 4 km terdapat Sungai Kiringan. Di kiri dan kanan sungai terdapat tinggalan arkeologi. Pada tahun 2012 tim Balai Arkeologi DI Yogyakarta melakukan survei dan ekskavasi di tepi kiri (barat) Sungai Kiringan. Temuan berupa sumur kuna dari bata, gerabah, keramik. Di sebelah kanan tepi Sungai Kiringan juga terdapat situs arkeologi, yaitu Situs Caruban, di Desa Gedongmulyo, Kecamatan Lasem. Situs ini pernah dilakukan ekskavasi oleh Pusat Penelitian Arkeologi Nasional pada tahun 1985. Pada situs ini terdapat sumur-sumur kuna bentuk bulat dan bentuk segi empat dari susunan bata. Hasil penelitian menunjukkan Situs Caruban merupakan situs permukiman kuna. Sebagian besar keramik berasal dari abad XIII-XV.

 

Penelitian kali ini melakukan ekskavasi di Situs Caruban.Tujuan penelitian untuk mengungkap berbagai aktivitas yang berkaitan dengan kemaritiman masa lalu  di daerah aliran Sunga Kiringan. Situs Caruban yang digali berada pada kompleks makam Sayid Abubakar di bagian barat Situs Caruban.Hasil ekskavasi menemukan tatanan bata kuna dan batu karang, gerabah dan keramik, terak besi, mata uang logam. Diperkirakan pelabuhan Kiringan berada di tepi Sungai  Kiringan di antara Situs Kiringan dan Situs Caruban.

Tim juga melakukan survei di Tambak Bedah di utara Situs Caruban, dan Situs Gunung Gempal di Desa Darakandang, Kecamatan Lasem. Di tambak Bedah ditemukan fragmen-fragmen gerabah dan keramik di tambak-tambak garam. Situs Gunung Gempal berupa bukit kecil dikelilingi yang dikelilingi tambak-tambak garam. Di atas gundukan ditemukan rangka manusia dan fragmen-fragmen gerabah dalam jumlah besar yang memadati permukaan situs.

Selain mengumpulkan data arkeologi melalui survei juga dilakukan survei lingkungan. Tim menyusuri aliran Sungai Silugangga di Kecamatan Juwana, Kabupaten Pati. Sungai Silugangga menjadi pelabuhan sungai. Sungai ini diperkirakan sebagai sisa-sisa Selat Muria.

 

Updated: August 31, 2018 — 3:17 am

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Balai Arkeologi D.I Yogyakarta © 2016 ArkeologiJawa