Balai Arkeologi Provinsi D.I Yogyakarta

Tidak Sekedar Membaca Masa Lalu

Dinamika Lanskap Kultur Maritim di Hilir Sungai Brantas Pada Abad XI-XX Masehi

Penelitian berjudul “Dinamika Lanskap Kultur Maritim di Hilir Sungai Brantas Pada Abad XI-XX Masehi” merupakan penelitian arkeologi multi-years yang dilaksanakan oleh Balai Arkeologi Provinsi D.I. Yogyakarta, salah satu Unit Pelaksana Teknis dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi yang memiliki tusi melaksanakan penelitian arkeologi di wilayah kerja D.I. Yogyakarta, Provinsi Jawa Tengah, dan Provinsi Jawa Timur. Penelitian ini diawali pada tahun 2019 di Kabupaten Sidoarjo. Tujuan utama pelaksanaan penelitian ini adalah untuk mempelajari peran Sungai Brantas dalam menghubungkan wilayah pedalaman dan wilayah pesisir, serta wilayah luar Jawa, melalui kedua cabangnya Kali Mas dan Kali Porong, dalam kurun waktu abad sebelas hingga dua puluh masehi.

Pada tahun 2021 penelitian ini dilaksanakan di Kota Pasuruan, Kabupaten Pasuruan dan Kota Surabaya, serta Kabupaten Sidoarjo. Kegiatan di Kota Pasuruan dan Kabupaten Pasuruan dilaksanakan pada tanggal 19 s.d. 28 Mei 2021. Kegiatan yang dilakukan di Pasuruan terdiri dari 2 (dua) kegiatan, yaitu survei Arkeologi Bawah Air dan kajian etnoarkeologi. Survei Arkeologi Bawah Air dilakukan dengan survei side scan sonar dan penyelaman SCUBA. Sementara kajian etnoarkeologi dilakukan dengan melakukan mewawancarai pembuat perahu tradisional dan melakukan observasi langsung pembuatan perahu tradisional.

Kajian etnoarkeologi dilakukan untuk mengumpulkan data tentang proses pembuatan perahu tradisional sebagai pembanding alat transportasi sungai dan laut yang pada masa lalu digunakan di Sungai Brantas dan wilayah muaranya. Wawancara dengan para pembuat perahu tradisional dilaksanakan di Desa Semare, Desa Kisik, Kecamatan Panggung, Kecamatan Lekok, dan Kecamatan Nguling. Para pembuat perahu di pesisir Pasuruan ini membuat perahunya dengan menggunakan teknik kuno shell-first construction, dimana papan-papan lambung disusun terlebih dahulu, baru diikuti dengan pemasangan gading-gading. Bentuk lengkung lambung kapal diperoleh dengan membengkokkan papan-papan kayu jati melalui proses pembakaran. Proses pembuatan perahu seperti ini ditemui pada temuan perahu/kapal kuno di Indonesia, seperti perahu Punjulharjo di Rembang, yang dibuat pada abad VII Masehi, dan kapal Cirebon, yang dibuat pada abad X Masehi.

Brantas-2021

Updated: June 21, 2021 — 7:00 am

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Balai Arkeologi D.I Yogyakarta © 2016 ArkeologiJawa