Balai Arkeologi Provinsi D.I Yogyakarta

Tidak Sekedar Membaca Masa Lalu

Penginderaan Jauh di dalam Ilmu Arkeologi

Peran Penginderaan Jauh di dalam Ilmu Arkeologi bukanlah sesuatu yang baru, kemajuan teknologi telah mendorong para arkeolog untuk menjelajahi batasan-batasan keilmuan mereka. Analisis radiocarbon misalnya, pada tahun 1950-an telah mulai membawa para arkeolog untuk dapat mengetahui hampir secara pasti “masa lalu” yang mereka pelajari itu kapan terjadi.Menyamai dampak besar radiocarbon dating pada ilmu arkeologi, tanpa kita sadari beberapa dekade belakangan ini para arkeolog juga mulai dibawa menuju batasan-batasan baru. Perubahan-perubahan signifikan di dalam ilmu arkeologi pun mulai terjadi. Kali ini pemicunya adalah apa yang kita sebut dengan penginderaan jauh, atau bahasa gaulnya remote sensing. Data geologis, geografis, arkeologis, dan data lainnya dapat diramu melalui aplikasi-aplikasi penginderaan jauh. Teman-teman mungkin sudah tidak asing lagi mendengar GIS/ SIG, LIDAR, dan lain-lain.Ramuan berbagai data melalui penginderaan jauh salah satunya sangat terlihat di dalam proses survey potensi arkeologi di suatu kawasan. Terdapat beberapa variabel untuk membedakan antara kawasan dengan potensi arkeologis tinggi dengan yang rendah, dan penginderaan jauh memungkinkan kita untuk mencari variabel-variabel ini. Selanjutnya, sebelum ke lapangan pun kita bisa membangun hipotesa potensi arkeologis suatu kawasan. Hipotesa ini sangat membantu proses survey arkeologi, karena saat kita ke lapangan kita sudah mempunyai gambaran jelas daerah yang terduga berpotensi tinggi dan mana yang tidak.

Sumber: Hari Wibowo

Updated: February 15, 2021 — 2:49 am

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Balai Arkeologi D.I Yogyakarta © 2016 ArkeologiJawa