Balai Arkeologi D.I Yogyakarta

Tidak Sekedar Membaca Masa Lalu

Permukiman Tradisional Tengger

Balai Arkeologi DIY melakukan penelitian tentang permukiman tradisional Tengger sejak tahun 2002 hingga 2016 di beberapa lokasi yang merupakan tempat bermukim masyarakat Tengger. Salah satu lokasi penelitian tersebut adalah Desa Keduwung, Kecamatan Puspo, Kabupaten Pasuruan. Penelitian #ini mengambil tema permukiman Tengger berdasarkan sistem kepercayaan. Dari hasil peneltian tersebut, diketahui bahwa bentuk permukiman Tengger sangat dipengaruhi oleh sistem kepercayaan yang masih kental dengan tradisi megalitik. Salah satunya adalah keberadaan Punden.

Punden merupakan aspek penting pada ritual masyarakat Tengger. Bagi masyarakat Keduwung, keberadaan punden bukanlah sekadar mitos. Masyarakat Keduwung meyakini bahwa punden yang ada di desa mereka merupakan pelindung desa, mengayomi seluruh warga masyarakatnya. Punden yang ada di Desa Keduwung dinamakan Punden Tunggul Sari atau dikenal juga sebagai Punden Tunggul Payung. Sedangkan roh yang bersemayam di punden tersebut diyakini bernama Raden Bagus Tunggul Sari.

Penghormatan terhadap punden ini diwujudkan juga dalam konsep tata ruang rumah tradisional Tengger. Rumah tradisional Tengger dibagi menjadi tiga ruang utama, yaitu Pedhayohan (ruang untuk menerima tamu), Peturon (kamar tidur), dan Pawon/Pedharingan (dapur). Tiap-tiap ruang mempunyai kelengkapan yang biasa ada di setiap rumah masyarakat Tengger. Sehingga, walaupun saat ini rumah adat Tengger sudah jarang ditemui, komponen-komponen tersebut masih dapat ditemui dalam rumah modern. Salah satu komponen yang masih ada dan erat kaitannya dengan Punden adalah keberadaan sanggar di Pedhayohan. Sanggar ini terletak di sisi Timur atau bagian kanan. Sanggar berfungsi untuk “mendudukkan” roh leluhur. Salah satunya adalah Roh Raden Bagus Tunggul Sari yang bersemayan di Punden Tunggul Payung atau Tunggul Sari.

Informasi tentang permukiman Tengger ini bisa dibaca selengkapnya di http://repositori.kemdikbud.go.id/id/eprint/17011

Updated: May 19, 2020 — 3:39 am

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Balai Arkeologi D.I Yogyakarta © 2016 ArkeologiJawa